
Kita mungkin telah sering mendengar
tentang makanan organik, yaitu makanan yang ditanam secara alami, tanpa
penggunaan bahan kimia apapun termasuk pestisida, diolah dan disajikan
dengan cara yang sehat dan ramah lingkungan. Namun sebagian besar dari
kita mungkin belum pernah mendengar atau tahu tentang Organic Fashion
dan Eco - Fashion.
Meskipun mungkin di Asia dan terutamanya Indonesia, belum terlalu
terdengar ataupun dikenal, Organic dan Eco - Fashion telah menjadi
sesuatu yang sangat besar dan merupakan statement terdepan dari
komunitas Fashion di negara - negara maju.
FASHION DAN PENCEMARAN LINGKUNGANTsunami,
badai, banjir, dan lainnya hanya merupakan sebagian akibat dari
perubahan alam yang tentunya berhubungan erat dengan kontribusi
peradaban manusia. Salah satu di antaranya adalah pencemaran lingkungan
yang terjadi di seluruh dunia, termasuk pencemaran yang terjadi dari
bahan - bahan kimia yang kita gunakan saat memproduksi kebutuhan sehari
- hari dan industri kita, yang salah satunya adalah industri fashion.
Tidak dapat dibantah bahwa fungsi dan dampak dari fashion dalam
kehidupan masyarakat kini sangatlah besar. Baik secara langsung maupun
tidak langsung. Banyak pakaian yang kita kenakan sekarang, terbuat dari bahan sintetis
seperti nylon dan polyester. Nylon dan polyester terbuat dari
petrokimia yang menyebabkan polusi tingkat tinggi pada lingkungan,
serta menyebabkan global warming (meningkatnya panas bumi dan suhu
dunia yang menyebabkan mencairnya es di kutub dan menyebabkan ketidak
seimbangan alam serta pergeseran benua pada akhirnya).
Keduanya juga merupakan produk yang sulit untuk didaur ulang. Untuk
memproduksi nylon, nitro oksida "diproduksi" sebagai bagian dari
prosesnya. Nitro Oksida merupakan salah satu gas yang berbahaya dalam
efek rumah kaca (greenhouse) yang kekuatannya 310 kali lebih kuat
daripada karbon dioksida dan menyebabkan global warming.
Kain
katun berwarna putih mungkin terlihat paling natural dan paling ramah
lingkungan, namun pada kenyataannya, justru lebih tidak ramah
lingkungan dibandingkan dengan kain sintetis kebanyakan. Kapas
merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling tidak ramah
lingkungan.
Karena bukan ditujukan untuk makanan pangan, maka
kapas secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia
lainnya yang jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan
untuk tumbuhan pangan. Di negara - negara berkembang, bahkan 50% dari
pestisida digunakan untuk menyemprot perkebunan kapas. Hasilnya tentu
selain mencemarkan lingkungan, menyebabkan penyakit bagi para pekerja
perkebunan, dan memutus rantai makanan secara alami bagi kehidupan
hewani.
Bahan - bahan kimia yang digunakan selama proses
pembuatan bahan - bahan dan pakaian ini, akan terus ada dan akan terus
memberikan dampak pada penggunanya. Karenanya semakin sering kita
dengar ada anak - anak dengan kesehatan yang kurang baik, harus
menghindari penggunaan produk - produk berbahan dasar kapas, ataupun
alergi terhadap kapur barus, dan lainnya.
Dengan banyaknya
dampak buruk yang ada, maka sudah sewajarnya bagi industri yang
berdampak besar bagi kehidupan manusia itu mulai memikirkan dan
mengambil langkah untuk lebih menghijaukan industrinya.
Baik
secara bersama - sama, maupun secara perorangan, sudah menjadi
kewajiban kita semua untuk memelihara alam dengan lebih baik demi
kenyamanan hidup bersama, dan kita bisa memulainya dari fashion, bidang
yang kita cintai bersama. Semangat "menghijaukan" itu yang sedang
dikumandangkan oleh seluruh komunitas fashion dunia.
Selain
ramah lingkungan, produk - produk hijau ini juga mengusung trade fair
berupa upah layak bagi pekerja, nilai jual bahan baku yang layak, serta
nilai produksi dan nilai jual yang wajar. Berbekal harapan untuk
kehidupan bersama yang lebih baik, lingkungan yang lebih nyaman, dunia
tanpa kemiskinan, serta trade fair bagi semua negara termasuk negara -
negara ketiga, sebagian dari komunitas fashion dunia mulai berusaha
mengubah dunia dengan cara yang mereka ketahui, yaitu melalui Organic
Fashion dan Eco - Fashion.
ORGANIC DAN ECO - FASHIONOrganic
Fashion berarti pakaian yang telah di produksi dengan penggunaan bahan
kimia seminimal mungkin dengan dampak kerusakan pada lingkungan yang
juga sangat minimal. Ini termasuk minimalisasi bahan kimia yang
digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman
dan pemeliharaan bahan baku (kapas, bamboo, rami, dll), pengupasan,
pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa
pakaian, tas, dan lainnya.
Eco - Fashion ditujukan kepada
pakaian dan prduk fashion yang telah di produksi menggunakan produk -
produk ramah lingkungan dalam prosesnya, termasuk produk dan pakaian
organic. Produk Eco - Fashion dapat menggunakan bahan - bahan pakaian
lama yang di
recycle atau bahkan menggunakan material
recycle
lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya.
Eco - Fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat organic.
Bagaimanapun fashion yang paling ramah lingkungan adalah produk - produk
recycle dan pakaian
vintage.
Karena dengan menggunakan kembali, kita menggali fungsi dan menambahkan
nilai secara keseluruhan. Sekarang ini di negara - negara maju,
terutamanya Amerika, sudah banyak
t-shirt architect ataupun
green designer yang menggunakan produk - produk daur ulang dan bahan - bahan second hand untuk menghasilkan karya - karya mereka. Baik karya
haute couture maupun
ready to wear.
Banyak label fashion dunia yang telah menggunakan kain - kain vintage untuk musim ini, mengubah tekstil - tekstil lama menjadi
funky
dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang anda inginkan tanpa
menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam.
Lebih jauh lagi, kini bahkan telah ada banyak show dan t
rade fair untuk produk - produk Organic dan Eco Fashion, seperti
Global ECO Wholesale Trade and Fashion Show
yang diadakan Febuari lalu di Las Vegas. Beberapa designer dan brand
dunia seperti Giorgio Armandi dan Adidas juga telah menggunakan bahan
organic seperti rami dan bambu untuk produk - produk terbaik mereka. Angelina Jolie, Natalie Portman, dan designer Stella Mc. Cartney, merupakan beberapa
Hollywood A-list celebrities yang juga secara konstan menggunakan produk - produk Eco - Fashion dan produk ramah lingkungan lainnya.
Di
India, beberapa designer seperti Deepika Govind, Ritu Kumar, Rahul
Mishra, dan Samant Chouhan juga secara konstan telah mendukung
penggunaan produk - produk Organic dan menjadikan Eco - Fashion sebagai
pilihan mereka.
MASA DEPANSeperti
biasanya, sebuah perubahan tidak pernah mudah untuk dilakukan. Begitu
juga perubahan dalam dunia fashion ini. Masih kurang beragamnya jenis
organic fashion yang dapat dipilih, membuat sebagian komunitas fashion
masih belum yakin untuk beralih ke industry yang lebih hijau ini.
Sebagian lagi juga mengkhawatirkan perbedaan
cost yang cukup signifikan
dalam proses produksi setiap jenis produk akan mengurangi
profit yang
didapatkan. Di sisi lain, permintaan dari konsumen belumlah tinggi,
dikarenakan sebagian besar konsumen masih kurang aware dengan konsep
"hijau" ini dan produk yang ditawarkan memang belum seberagam produk
lainnya.
Namun dapat kita yakini bahwa, sebagai manusia yang
beradab dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup lingkungan
dan isinya, secara perlahan namun pasti, organic fashion dan
eco-fashion akan menjadi pilihan yang tepat.
Di Indonesia sendiri, kita telah mengenal banyak jenis penggunaan bahan
- bahan alami untuk produk fashion seperti kulit kerang, tulang, bambu
untuk kancing, aksesoris dan lainnya. Kemudian penggunaan daun pisang,
rotan, bambu untuk produk tas dan sepatu, namun secara keseluruhan,
belum ada sistem dan konsep yang jelas tentang bagaimana membuat dan mengolah keseluruhan proses merupakan proses
yang "hijau", keterangan tentang apakah bahan - bahan alami tersebut telah diolah
menjadi serat - serat untuk bahan tekstil dan lainnya, dan apakah keseluruhan proses tersebut mengusung sistem
fair trade.
Pada
akhirnya, mungkin seperti yang dikatakan oleh Katharine Hamnett, salah
seorang desainer penerima penghargaan British Designer Of The Year, “
The fashion industry tends to attract people with serious
personality defects. They just want to
be rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to
mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?”
Fashion Article for Simplight.NET, Astaga.ComBy Vilia Ciputra
(Referensi diambil dari berbagai media. - Untuk kebutuhan data referensi bisa PM saya.)
-------------------------------------------------------------------------
Kalau ada yg mau menambahkan atau mengoreksi informasi yang ada, silahkan ya.
Karena informasi yang ada juga masih sangat terbatas. Thx.