Blog EntrySeberapa jauh dan sekuat apa?May 21, '07 5:59 AM
for everyone
"Jangan jadi pahlawan kesiangan lah. Mana ada yang bersih di negara ini? Memang jamannya udah gila, apa yang ada yah diikutin aja. Sok bersih dan sok bertahan yang ada malah ancur sendiri. Buat apa ngelawan pendapat dan perilaku komunitas?" 

Seseorang membicarakan hal tersebut padaku malam ini. Sementara seorang lainnya berkata,

"Yah liat realitasnya aja. Daripada berusaha mengubah komunitas yang ada, lebih baik pindah ke komunitas yang baru yang sesuai dan memiliki nilai - nilai yang cocok dengan apa yang kita yakini kan? Seumur hidup pun ga akan cukup untuk mengubah komunitas yang ada sekarang."

Masalahnya, apakah bisa? Bukan, bukan tentang pindah komunitasnya.
Pindah komunitas hanya memindahkan lubang permasalahan, karena tidak ada satu komunitas pun di dunia ini yang bebas masalah dan sempurna tanpa keberadaan komunitas lainnya sebagai pembanding.
Melainkan tentang apakah bisa manusia terus mentolerir keburukan yang ada dan terus - menerus berkubang di dalamnya hingga tenggelam bersamanya secara pasrah?

Dibutuhkan lebih dari sekedar kekuatan tekad yang besar untuk dapat mati tenggelam di kolam renang dengan ketinggian 4 meter, terutama di saat kita sebetulnya bisa berenang.
Aku bertanya - tanya dan mengira - ngira, seberapa kuat tekad kita untuk terus terpuruk dan mengikuti keinginan serta cara komunitas dengan membabi buta, di saat kita sebetulnya memiliki kekuatan untuk merealisasikan sebuah perubahan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku mengira - ngira, sejauh apa manusia kuat dan mampu menghianati hati nuraninya sendiri.


gekmas wrote on May 31, '07
Kadang jawaban permasalahannya juga terkait dengan waktu, kekuatan kita untuk bertahan pada kata hati nurani itu yang perlu ditambah...hingga pada saat sang waktu tiba maka kebenaran akan berbicara dengan sendirinya. Tanpa perlu kita berteriak lantang hingga suara serak. ;)
kesha wrote on May 31, '07
iya, bener vil..
viliaciputra wrote on May 31, '07
gekmas said
Kadang jawaban permasalahannya juga terkait dengan waktu, kekuatan kita untuk bertahan pada kata hati nurani itu yang perlu ditambah...hingga pada saat sang waktu tiba maka kebenaran akan berbicara dengan sendirinya. Tanpa perlu kita berteriak lantang hingga suara serak. ;)
Yup Gek. Itu sebabnya gue diem aja pas mereka ngomong itu. Hehehe...gue pikir gimanapun tiap orang berhak melihat dengan caranya sendiri - sendiri, dan berhak hidup dengan pilihannya masing2. Apapun itu, itu gue hargai.

Yang terpenting dari sebuah komunikasi kan, idenya. Dan menurut gue waktu itu, ide gue udah tersampaikan. Masalah mereka mau memikirkannya atau tidak, itu udah bukan bagian gue lagi. :)
Intinya sih tidak perlu berteriak lantang, tapi juga jangan sampai diam sehingga menyesatkan orang lain. Kira2 gitu sih pikiran gue waktu itu.
viliaciputra wrote on May 31, '07
kesha said
iya, bener vil..
Bener apa ko?
gekmas wrote on May 31, '07
Yup...kita sehati n sepikiran Vil.. :)
viliaciputra wrote on May 31, '07
gekmas said
Yup...kita sehati n sepikiran Vil.. :)
Aih...jangan gitu donk ah...
jadi malu nih akuww....:">
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help