"Jangan jadi pahlawan kesiangan lah. Mana ada yang bersih di negara ini? Memang jamannya udah gila, apa yang ada yah diikutin aja. Sok bersih dan sok bertahan yang ada malah ancur sendiri. Buat apa ngelawan pendapat dan perilaku komunitas?"
Seseorang membicarakan hal tersebut padaku malam ini. Sementara seorang lainnya berkata,
"Yah liat realitasnya aja. Daripada berusaha mengubah komunitas yang ada, lebih baik pindah ke komunitas yang baru yang sesuai dan memiliki nilai - nilai yang cocok dengan apa yang kita yakini kan? Seumur hidup pun ga akan cukup untuk mengubah komunitas yang ada sekarang."
Masalahnya, apakah bisa? Bukan, bukan tentang pindah komunitasnya.
Pindah komunitas hanya memindahkan lubang permasalahan, karena tidak ada satu komunitas pun di dunia ini yang bebas masalah dan sempurna tanpa keberadaan komunitas lainnya sebagai pembanding.
Melainkan tentang apakah bisa manusia terus mentolerir keburukan yang ada dan terus - menerus berkubang di dalamnya hingga tenggelam bersamanya secara pasrah?
Dibutuhkan lebih dari sekedar kekuatan tekad yang besar untuk dapat mati tenggelam di kolam renang dengan ketinggian 4 meter, terutama di saat kita sebetulnya bisa berenang.
Aku bertanya - tanya dan mengira - ngira, seberapa kuat tekad kita untuk terus terpuruk dan mengikuti keinginan serta cara komunitas dengan membabi buta, di saat kita sebetulnya memiliki kekuatan untuk merealisasikan sebuah perubahan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku mengira - ngira, sejauh apa manusia kuat dan mampu menghianati hati nuraninya sendiri.