Serius, saya tidak pernah bisa mengerti dengan pemikiran orang - orang yang suka sekali menjelek - jelekkan atasan mereka, menggosipkan atasannya, dan mengeluh tentang pekerjaannya. Dan parahnya lagi, mereka cuma bisa melakukan itu di belakang atasannya, sementara di depannya paling bagus cuma bisa sok tidak memperdulikan atasan mereka itu.

Kebanyakan orang memilih untuk mengambil jalur personal, saat jalur penyelesaiannya seharusnya adalah jalur profesional. Ditegur, sakit hati. Dikritik pekerjaannya, merasa tidak dihargai. Hei...ke mana logikanya sih? Ditegur ya balas dengan hasil yg lebih baik lagi. Dikritik ya tanggapi dengan penjelasan dan solusi yang lebih baik lagi. Bukan emosi yang seharusnya menjadi jawaban. Dan yang paling buruk lagi adalah, kebanyakan orang yang memiliki atasan di pekerjaannya berpikiran, "Ya elo enak di atas, ga pernah ngerasain jadi bawahan." Padahal yg sesungguhnya rasanya justru terbalik. Mungkin mereka yang justru tidak pernah merasakan jadi atasan?

Sebetulnya pertanyaannya mudah kan. Kalau memang merasa bisa melihat keburukan - keburukan atasannya itu, kenapa tidak berusaha menunjukkan kalau mereka bisa melakukan yang lebih dari atasan itu? Simply daripada menggerutu di belakang, coba tunjukkan solusinya. Jangan - jangan kalau mereka yang di sisi atasan mereka itu, hasilnya malah lebih buruk dan tidak berkutik sama sekali?

Sampai saat ini saya percaya, setiap hal diraih dengan usaha. Apapun itu, bagaimanapun itu, apabila seseorang ditunjuk sebagai pimpinan dan atau sebagai seseorang yang posisinya di atas kita, itu berarti orang tersebut punya sesuatu yg enggak kita miliki. Entah kemampuan memimpin, entah kemampuan menjilat, entah kemampuan negosiasi, entah pengalaman, entah koneksi...apapun itu, pokoknya lebih daripada kita. Nah, kalau tidak suka dan merasa bisa lebih atau lebih berkemampuan di banding atasan itu, kenapa tidak menyainginya sampai melampaui dia? Bukankah itu jauh lebih berguna daripada sibuk menghabiskan waktu dengan menggosip dan mengeluh?

Sebetulnya saya malah lebih menghargai keputusan orang - orang yang hengkang dari perusahaannya dibanding dengan mereka yang mengeluh, menjelek - jelekkan, tapi tetap stay di perusahaan itu. Tapi bukan berarti orang yang pindah - pindah terus kerjanya juga jadi bagus. Menurut saya saat seseorang berpindah - pindah kerja terus, mungkin ada sesuatu yang patut di pertanyakan juga tentang kinerja dirinya. Apa yang salah sampai dia terus menerus pindah?

Saya ingat ayah saya pernah berkata, "Kalau pekerja dilihat di CV nya pindah - pindah terus malah akan jadi satu pertanyaan besar. Ngapain dia pindah - pindah terus? Minimal dari situ keliatan sifat tidak loyal dan bosenannya. Andaikan semua kinerja orang itu bagus dan perusahaannya yang buruk pun paling dua tiga kali pindah dalam enam sampai tujuh tahun. Enggak mungkin berkali - kali pindah dalam waktu beberapa tahun saja. Kalau papa disuruh nerima pegawai seperti itu pasti mikir - mikir ratusan kali, karena apa yang mau diharapkan dari pegawai ini? Jangan - jangan cuma ngabisin biaya training perusahaan. Istilahnya kalau makan, cuma ngotorin gigi doank."

Saya setuju dengan pendapat ayah saya itu. Hampir semua pekerja dengan jenis seperti itu, yang pindah - pindah terus menerus, saya lihat punya tingkat keegoisan yang tinggi, tingkat loyalitas yang rendah, cenderung rebel, pembosan, dan sejenisnya. Nah sebetulnya kalau sifat tadi itu ditambah dengan sifat pantang menyerah, berani mencoba, dan kreatif, mungkin minimal bisa jadi sifat entrepreneur pemula. Tapi yah itu dia, kebanyakan dari mereka tidak bisa bertahan lama di satu bidang tertentu, dan akhirnya menyalahkan bidang tersebut atau siapapun yang bisa disalahkan, termasuk atasannya.

Serius deh, mulai sekarang ya, sebelum memulai satu kata untuk menjelekkan atasan anda ataupun menggosipkan mereka, ataupun mengeluh tentang pekerjaan anda, coba pikir dulu masak - masak, apa anda bisa menjadi lebih baik dari mereka? Kalau bisa, TUNJUKKAN!

Pertanyaannya sederhana:

Kalau anda pikir anda begitu hebatnya, begitu bagusnya, dan begitu mampunya melebihi mereka, kenapa anda tidak mengambil alih dan membuat sendiri milik anda?

Kalau anda pikir anda begitu bagusnya sebagai seorang karyawan sampai tidak layak mendapatkan semua perlakuan sebagai bawahan itu, kenapa anda tidak mencoba menjadi bos sendiri?

Mencarai jawaban dua pertanyaan di atas dan mencari bagaimana caranya, jauh lebih berarti daripada menjelek - jelekkan dan mengeluh kan?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sesungguhnya, menjadi atasan tidak semudah yang dipikirkan dan dibayangkan. Setiap posisi memiliki beban tanggung jawabnya masing - masing. Dan apa yang membawa anda sampai tingkat sekarang ini, takkan dapat membawa anda ke tingkat yang lebih tinggi.



10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
dartz wrote on May 25, '07
mmmh, office politicking kaya gini ni yg nyebelin.
viliaciputra wrote on May 25, '07
dartz said
mmmh, office politicking kaya gini ni yg nyebelin.
Office politic sih di mana - mana pasti ada. Tapi bisa dibilang hampir selalu ada orang2 yg bisa melampaui atasannya soon or later sih To. :) Jadi kembali ke pribadinya masing2 aja. Kalau cuma ngedumel thok ya.....sekian dan terima kasih deh.
dartz wrote on May 25, '07
ngomel doang mah, gak membawa kemana2x...
dikasi kesempatan, kalo gak bisa proofed, ya kelaut aja dah..
ujung2nya ntar minta dikasi kerjaan...tanda-tanda orang dah kedesak...

dulu di tempat kerja yg lama, gue ngalamin koq, akhirnya gue keluar...gak kuat,
emang sistem organisasinya.. ampun deh...
sebrapa baik niat seorang almamater berusaha ngebenerin..tetep aje..

beda kasus sama elo sih.
tapi mimpin dan dipimpin itu aja udah mindset yg beda. :)
viliaciputra wrote on May 25, '07
Nah tuh bener banget. Padahal kesempatan banyak tapi ga dipergunakan.
Yang ada cuma nyalahin keadaan. Rada ga beres emang...:P

Hehe sebetulnya kasusnya bukan di gue sih, secara gue internet based company, dan kebanyakan kontributor and partner di luar, jadi bisa dibilang ga ada yg namanya office politics lagi. Pegawai2 yang ada di kantor juga udah seperti keluarga sendiri. Intinya selama kerjaan beres dan tujuannya efisiensi kerjaan, apapun dan mau gimanapun boleh. Fleksible abis.

Masalahnya justru dari temen2 gue yg kerja kantoran. :P yah gue agak2 males aja denger topik yang sama dibahas berulang2, yg bikin gue malah nanya, "sebetulnya yg ga punya kemampuan itu, atasan loe atau elo sih?" :P

Yah emang sih mindset nya udah beda. Secara masalah yg dihadapi dan solusi yg harus dilakukan juga beda. Tapi nurut gue ga tertutup jalan bagi keduanya buat exchange hehehehe.... istilahnya biar kayak Tukul gitu..."PUAS PUAS?" Kalo belom ngerasain kan belom ngerti susahnya ngatur orang. :P Hehehe...
dartz wrote on May 26, '07
ah vil, gue kalo foto on location di klient gue yg rata2x di kuningan...koq kayanya para pekerja itu stressfull banget..ey..
viliaciputra wrote on May 26, '07
dartz said
ah vil, gue kalo foto on location di klient gue yg rata2x di kuningan...koq kayanya para pekerja itu stressfull banget..ey..
Ho oh.....*angguk2 setuju*
neesh2 wrote on May 28, '07
dartz said
ah vil, gue kalo foto on location di klient gue yg rata2x di kuningan...koq kayanya para pekerja itu stressfull banget..ey..
hei salah satunya sayakah to :D....gw stress atau ga bermain2 trus ni hahahah :D tp atasan saya emang enak vil soalnya yang kerja...dalam arti harafiah, anak2 buahnya dia cuma supervisi doank...ada yang blg wah harusnya ga gtu, soalnya head group lain turun kerja malah meeting pun suka ga ikutan karna urusan "pribadi" alhasil anakbuahnya yang banyak kerjaan disuruh datang meeting...tapi ada baik buruknya sih, buruknya kalo dia ngehandle kerjaan malah dia kaya orang stress berat gtu trus akibatnya kita jadi mati gaya..padahal kalo kita kerja yaaaa dibawa...fun aje tu hehehe
viliaciputra wrote on May 28, '07
huehue...gue ga bisa menilai sih Nesh apakah memang dia atasan yg enak atau enggak. Tapi kalau kerjanya supervisi, gue pikir emang sebetulnya kerjaan orang yg jadi kepala itu paling penting adalah mikir, menjalankan visi misi, dan supervisi. Istilahnya ya memanage orang lah, seperti maen catur gitu. So anak buahnya adalah bidak catur yg bergerak, dan atasannya adalah yg menggerakkan dengan berpikir. Tapi itu dengan catatan memang dia juga bekerja meskipun bukan secara harafiah atau fisik. Nah kalo ternyata emang cuma males dan supervisi2 doank sih...emang dodol itu. Dan harusnya loe lampaui dia aja Nesh. Hehehehe You can do it!
neesh2 wrote on May 28, '07
hahaha yap harus di sini dan rasain dan lihat sendiri baru bisa menilai vil. Karena sebenernya jobdesknya bukan itu kok. Cuma karena suatu hal dia malah membuat jobdesk sendiri. Dan ga da yang ngeh, karena....job2nya dihandle dengan baik oleh kita :)
viliaciputra wrote on May 28, '07
neesh2 said
hahaha yap harus di sini dan rasain dan lihat sendiri baru bisa menilai vil. Karena sebenernya jobdesknya bukan itu kok. Cuma karena suatu hal dia malah membuat jobdesk sendiri. Dan ga da yang ngeh, karena....job2nya dihandle dengan baik oleh kita :)
:) gue pikir sih selama loe dan yg lain nerima2 aja dengan kerjaan yang ada, yah berarti ga ada masalah kan?

Yang jadi masalah kalau loe dan yg lain complain and ga terima dikasih kerjaan segitu banyak dan merasa atasan loe tidak mampu, trus malah ngejelek2in atasan itu, tapi juga ga mampu melampaui atasan tsb. Itu baru masalah.

As long as everybody happy, masalahnya ga ada, dan ga ada yg perlu dinilai. :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help