Kemarin sore, kantorku mendadak kedatangan tamu. Aku yang sedang di luar kantor, di YM oleh pegawaiku, katanya ada tamu untukku. Disebut namanya, aku tidak mengingatnya. Katanya menitipkan tas 3 potong untuk sample. Hasil kerajinan Jogja. Katanya juga sebelumnya sudah pernah e-mail2an denganku.
Setelah tidak berhasil mengingatnya, kuputuskan untuk meneleponnya dan akhirnya kami janjian untuk bertemu dengannya di Senayan City pada hari yang sama hanya lebih sore, karena tamuku tersebut sudah ada acara untuk bertemu dengan orang lain dan mempersiapkan pameran di daerah tersebut.
Singkat kata, aku bertemu dengannya, dan yang mengagetkan, usianya baru 23 tahun! Dua tahun di bawahku. Tapi usaha kerajinannya sudah cukup besar dan cukup membantu masyarakat di daerahnya. Wah...jadi semangat. Senang rasanya ketemu dengan pengusaha muda juga, karena biasanya aspirasi dan pola berpikirnya masih sama, serta semangat idealismenya juga sama tingginya.
Terus terang aku memang sangat menghargai pengusaha - pengusaha muda, karena aku tahu berapa banyaknya kesenangan dan masa - masa santai yang dibuang demi membesarkan usaha tersebut menjadi sesuatu yg betul - betul berjalan baik. Sementara yang sebaya masih bersenang - senang dan bergaul, mereka memilih untuk menjalani hidupnya dan mengambil alih tanggung jawab atas diri sendiri dan hidup orang banyak di dalam tangan mereka. Bukan hal mudah, dan merupakan sesuatu yang patut dipuji.
Terlebih lagi bidang yang ia geluti adalah kerajinan dalam negeri. Anyaman mulai dari daun, tumbuh - tumbuhan, hingga produk daur ulang. Ketrampilan yang merupakan harta bangsa ini, diolah sedemikian rupa menjadi sesuatu yang takkan hilang ditelan masa. Andaikan semua kaum muda di Indonesia bergerak seperti ini, rasanya tidak ada lagi anak - anak yang harus mengemis di pinggir jalan ya.
Pertemuan kemarin membuatku teringat lagi dengan semua perjalanan yang sudah kutempuh, dan beberapa keinginan yang belum tercapai. Membuatku bertambah semangat dengan segala hal yang kujalani saat ini, dan membuatku semakin yakin akan produk Indonesia.
Sejak dulu aku memang sangat mencintai produk Indonesia. Baik kerajinannya, ukirannya, anyaman, tenun, dan lainnya. Walaupun tidak terlalu mengerti banyak, tapi aku menyukai setiap keunikannya. Namun apabila awalnya aku hanya sekedar menyukai, semakin lama aku semakin sadar bahwa mencintai produk Indonesia bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah panggilan hati.
Bayangkan apabila semua uang yang digunakan untuk membeli produk luar digunakan untuk membeli produk dalam negeri? Tidak akan ada pengangguran lagi. Semakin kupikirkan, semua ini semakin seperti lingkaran setan.
Kurangnya pecinta produk dalam negeri = kurangnya tingkat pembelian = kurangnya tingkat penjualan = kurangnya pengusaha yg berminat memproduksi = kurangan peminat untuk mempelajari keahlian untuk membuat produk dalam negeri yg biasanya bersinggungan dengan budaya = semakin pudarnya budaya negara ini = semakin hilang identitas bangsa ini. Dan pada akhirnya, kita menjadi negara konsumtif tanpa identitas dan jati diri. Letak identitas dan jati diri itu bukan lagi pada bangsa dan negara tapi pada brand di balik setiap produk yang kita kenakan. Ironis.
Aku mengerti, tidak semudah itu untuk bisa mengalihkan semua ke produk dalam negeri. Aku masih cinta iPodku, masih cinta Samsungku, masih cinta Nokiaku, dll. Tapi inti dari mencintai produk dalam negeri memang bukanlah memboikot produk luar, melainkan memajukan kualitas produk dalam negeri dan mencintainya dengan sepenuh hati. Sebagaimana arti mencintai, berarti termasuk berusaha menerima apa adanya seraya memperbaiki, dan tidak meninggalkan seburuk apapun yg terjadi. True love never ended kan?
Saat ini kita semua masih belajar. Ada produk - produk yang memang belum bisa kita buat, dan karenanya kita memang harus dan mau atau tidak mau, menggunakan produk luar. Kita memang masih kekurangan ilmu, sumber daya, dan teknologi. Tapi kita tidak boleh kehilangan harapan dan keberanian kan? Bukankah harapan dan keberanian tidak membutuhkan semua itu? Bukahkan justru harapan dan keberanian datang saat semua itu tidak kita miliki? Harapan dan keberanian untuk mencoba, untuk menjadi yg terbaik, untuk terus belajar, hingga paling tidak kita bisa mengandalkan produk dalam negeri ini untuk hidup. Dan yang paling mudah adalah harapan dan keberanian untuk terus percaya untuk menggunakan produk dalam negeri.
Saat beberapa tahun yang lalu aku memutuskan untuk menghentikan dan mengalihkan proses produksi dari negara lain ke dalam negara ini, pertentangan yg terjadi memang cukup banyak. Pertama memang masalah cost, kedua masalah kinerja, ketiga masalah teknik. Amat sangat sulit bisa menemukan tempat - tempat produksi dengan kualitas yang baik dan QC yang ketat. Terlebih lagi sulit menemukan sesuatu yang cukup orisinal di sini. Dan jangan sebut harga tentunya, karena diakui atau tidak..masalah efisiensi kita memang kalah jauh. Lalu sekalinya menemukan keduanya, maka hambatan yang ada akan berupa jumlah quantity pemesanan yang kalibernya dunia. "Mencintai itu memang sulit ya?" aku ingat seorang partner seperjalanaku dulu pernah berkata.
Tapi sekarang ini, rasanya aku bisa dengan cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa mencintai ternyata tak sesulit itu. Aku menemukan beberapa partner seperjalanan yang memiliki idealisme yang sama denganku, saling menopang dan mengisi. Dan kini, dapat dengan bangga kukatakan bahwa untuk semua produk yang ada di Simplight, 95% merupakan hasil proses produksi dari dalam negeri, meski untuk bahan baku, masih 45% di dominasi oleh produk luar. Mungkin belum apa - apa dan tidak terlalu berarti banyak, namun itulah cara kami mencintai produk dalam negeri. Dengan tidak berhenti mempercayai dan menggunakannya.
Seorang teman pernah berkata, mana mungkin kita bisa lepas dari produk luar? Dan aku balik bertanya, memang siapa yang ingin lepas dari produk luar? Contohlah Cina dan India, yang merupakan negara produsen besar, apakah mereka lepas dari keterbukaan produk luar? Tidak. Tapi mereka dengan pandai dan cerdik menggunakan ketergantungan itu menjadi sesuatu yg berbalik menguntungkan mereka. Dan kurasa itu yang memang seharusnya dilakukan oleh kita.
Ah, pembicaraan yang panjang dengan topik yang cukup rumit dan mungkin memang sebuah perjalanan yang entah tercapai atau tidak dalam satu umur ini, tapi satu kutipan yang hari ini aku terima di email mungkin dapat menggambarkan keadaannya:
Anda tidak tenggelam hanya karena terjatuh ke dalam air.
Anda tenggelam karena anda diam.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pertemuanku kemarin sangat berarti, dan setelah berbincang - bincang lebih banyak, jadi semakin berarti. Adalah indah apabila kita bisa bekerja dengan hati dan berharap dengan ketulusan. Semoga bisa saling melengkapi dalam perjalanan yang panjang.
Terima kasih karena sudah mengingatkanku kembali pada cita - cita yang belum tercapai.
- Sebuah catatan subjektif untuk pengingat diri sendiri. -