Membaca salah satu postingan Darto ini, jadi terpikir untuk menuliskan beberapa hal yg belum sempat tertuliskan beberapa waktu yang lalu.

-----------------------------------------------------------------------------

Semua orang berbicara tentang budaya dan semua orang berteriak tentang budaya, semua setuju budaya berharga, tapi sedikit yg betul2 menghargainya dengan tindakan nyata. Mengapa? Mungkinkah karena kurangnya pemahaman yang sesungguhnya akan apakah budaya itu?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berada di ujung pencarian akan arti eksistensi diri. Sebuah pertanyaan sederhana ditanyakan oleh seorang sahabat, yaitu sejauh mana fashion yang ada di tangan saya bisa berdampak bagi bangsa ini? Sebuah pertanyaan sederhana yang tidak bisa saya jawab dan membuat saya bertanya - tanya pada diri sendiri, apa arti semua yang saya lakukan ini. Apa yang bisa saya perbuat dengan fashion yang ada di tangan ini?

Apabila keberadaan seorang dokter mampu menyelamatkan hidup manusia, dan keberadaan seorang tentara mampu membela hak dan memperjuangkan nasib bangsanya, apa arti keberadaan seorang fashion designer? Kalau boleh dikatakan dengan jujur, fashion saat ini adalah satu bidang yang tidak berhubungan langsung dengan hidup manusia. Fashion yang sekarang ini sudah berubah fungsinya dari sebuah pelindung nyawa menjadi sebuah status sosial.

Secara kasat mata, dalam dunia fashion yang terlihat hanya sesuatu yang glamor dan kreativitas massal. Tidak berarti glamor itu buruk, atau kreativitas itu tidak penting, melainkan hanya sekedar menggambarkan bahwa dunia fashion sekarang ini, antara penting dan tidak penting keberadaannya. Paling tidak, itu menurut saya.

Saya merasa fashion yang ada di tangan saya tidak terlalu berdampak besar bagi kehidupan manusia. Jangankan manusia, untuk sekedar sesama dan orang - orang di sekitar saya saja mungkin tidak terlalu berpengaruh. Saya sadar, fashion juga memberikan lapangan pekerjaan, memberikan peningkatan ekonomi dan banyak kesempatan hidup yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Tapi apakah itu saja? Di bidang lain pun semua hal itu bisa di dapatkan. Lalu apa pentingnya fashion ini?

Pertanyaan - pertanyaan dan pemikiran itu terus menggangu saya. Sampai suatu hari secara tidak sengaja saya melihat sebuah pameran arkeologi di Mangga Dua Mall, Jakarta. Pameran arkeologi itu mempertunjukkan sebuah relief di candi Borobudur, yang tidak akan pernah bisa kita lihat lagi. Mengapa? Karena candi Borobudur telah begitu rapuh akibat kurangnya perawatan dan perhatian akan keadaan fisiknya, sehingga diperlukan penopang tambahan di bagian bawah candi - candi tersebut. Penopang itu berupa lapisan dinding semen tambahan yang akan mengitari candi - candi, tempat di mana relief - relief batu itu berada. Ya, relief - relief itu tertutup oleh dinding semen tambahan itu.

Saya belum pernah ke candi Borobudur, dan saya tidak terlalu mengenal tentang candi tersebut. Tapi melihat gambar - gambar relief yang ada, dan mengetahui bahwa itu tertutup dinding semen tambahan dan tidak akan bisa dilihat lagi, cukup untuk membuat tenggorokan saya terasa tercekat. Apabila sebagian dari anda sempat datang dan melihat relief - relief itu, saya yakin anda akan merasakan hal yang sama.

Relief - relief itu dibuat dengan amat teliti. Semua ukirannya amat detail dan sempurna. Menggambarkan kehidupan dan kepercayaan yang dianut jaman itu. Tentang kode etik kehidupan di mana apa yang baik dan apa yang buruk belum dikaburkan oleh kepentingan pribadi.

Bisa anda bayangkan, saat patung batu sederhana saja begitu sulit dibuat, ini relief dari batu dengan detail yang sempurna yang diukir dengan tangan manusia - manusia yang hidup jauh sebelum kita hidup. Berapa sulitnya dan berapa bernilainya itu semua? Dan yang memprihatinkan bukanlah tentang hilangnya relief itu karena dilapisi dinding tambahan, melainkan karena semua itu terjadi di jaman kita. Di mana segalanya sudah begitu maju, tapi melindungi hal seperti itupun tidak mampu. Mungkin bukan tidak mampu, tapi tidak perduli?

Pameran itu bukan hanya menunjukkan tentang relief itu saja, melainkan memberikan gambaran sejarah secara cukup lengkap mengenai penyebaran agama budha, nilai - nilai yang dianutnya, hingga arti kebudayaan dan pembuatan candi borobudur serta candi lainnya. Dibuat seperti lorong waktu, kita dapat memasuki dari bagian kanan, memutari pamflet2 besar dan hasil karya jaman itu beserta artifak yang ada, hingga keluar di lorong sebelah kiri.

Saya tidak beragama budha, dan saya tidak terlalu memperdulikan mengenai agama budha nya. Di sana juga tidak ditekankan mengenai ajaran agamanya, melainkan tentang nurani dan akhlak baik untuk mencapai kesempurnaan hidup yang berasal dari etika dan prinsip yang dianut. Namun ada banyak hal yang menyita perhatian saya sepanjang lorong itu.

Biji - biji perhiasan yang dikenakan jaman itu, hasil karya tembikar yang digunakan, potongan - potongan emas dan metal yang digunakan, serta gambar - gambar pakaian yang ada saat itu, semuanya dipamerkan di dalam kotak di tengah - tengah lorong. Saya mengamati satu persatu sambil terus berjalan menyusuri lorong, hingga berhenti lama tepat di tikungan lorong dan hampir menangis di ujung sana.

Ada deretan pamflet besar bertuliskan banyak hal tentang kehidupan manusia. Dan ada satu pamflet yang intinya mempertanyakan, tanpa budaya, adakah manusia? Semua tembikar, pakaian, perhiasan, dan alat - alat pertukangan yang ada, adalah sisa - sisa dari budaya manusia yang hidup di jaman itu. Dan dari budaya merekalah dapat terlihat sejauh mana peradaban mereka saat itu. Tanpa budaya, adakah peradaban manusia?

Mungkin saya terlalu sentimentil dan berlebihan, tapi saat itu saya merasa betul - betul lega. Apa yang saya kerjakan dan apa yang ada di tangan saya bisa berarti banyak apabila saya menginginkannya. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini, melainkan tentang pertanyaan tadi, yaitu tanpa budaya, adakah peradaban manusia?

Budaya bukan tentang siapa yang duluan memiliki dan siapa yang mematenkan. Bukan juga tentang kebanggaan karena dikenal dan ditiru oleh bangsa lain ataupun karena berhasil kita claim kepemilikannya. Budaya juga bukanlah hanya tentang komoditas ekspor, kemudahan perjanjian diplomasi, ataupun pendatang devisa. Ketertarikan manusia akan segala hal yang berbeda adalah sesuatu yang alami, dan karenanya ketertarikan manusia akan budaya yang berbeda adalah sesuatu yang juga alami.

Namun budaya tetaplah budaya, sebuah peradaban manusia. Budaya adalah bukti bahwa kita ada. Mengapa kita bisa disebut bangsa Indonesia? Apa yang membedakan negara Jepang dengan negara Inggris? Apa yang membedakan Bali dengan Jawa?

Budaya-nya.

Bayangkan apabila kita mengatakan bahwa karena serumpun maka budayanya wajar menjadi sama (Ingat, mirip atau serupa BERBEDA ARTINYA dengan sama.), atau mengatakan tidak masalah apabila bagian dari budaya kita di claim menjadi milik pihak lain?

Ah tidak, cukup bayangkan saja apabila budaya dari berbagai suku di Indonesia ini dileburkan menjadi satu? Masih adakah peradaban Bali, Jawa, Madura, dan lainnya? Dan kalau merujuk pada pertanyaan sebelumnya, saat semua budaya yang menjadi jati diri dan bukti peradaban kita hilang atau dipersamakan oleh bangsa lainnya, masih akan adakah yang namanya bangsa Indonesia?

Mempertahankan warisan budaya, bukan tentang harga diri dan keangkuhan ataupun bukti kehebatan dan kemampuan suatu bangsa, melainkan KEHARUSAN dan KEWAJIBAN dari SEMUA bangsa. Masing - masing bangsa harus mempertahankan warisan budaya masing - masing dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Bukan karena hanya budaya itulah yang menjadi milik masing - masing bangsa, melainkan karena merebut ataupun mempersamakan budaya, hanya akan menghilangkan eksistensi bangsa itu sendiri.

Budaya bukanlah warisan leluhur yang harus kita jaga dan pertahankan.
Budaya adalah identitas kehidupan manusia dalam suatu bangsa.
Sama berartinya dengan orang tua kandung dan riwayat kehidupan kita.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Di ujung lorong keluar, saya mendengar salah seorang penjaganya sedang berbicara dengan beberapa tamu yang mendengarkan penjelasannya.
"Hampir semua manusia pasti mencari arti eksistensi hidupnya, sebagaimana yang Sidharta Gautama lakukan. Kalau eksistensi diri sendiri saja begitu besar artinya, apalagi eksistensi sebuah peradaban?"
Pertanyaan yang bagus.

Kini candi Borobudur bahkan sudah tidal lagi termasuk salah satu keajaiban dunia dan hampir dianggap sebagai susunan batu - batu biasa tanpa sejarah, menurut salah seorang penjaga di sana. Sebelum menyalahkan dan menghujat pihak luar yang menggunakan sarana voting untuk beberapa keajaiban dunia tersebut, mungkin perlu ditanyakan dulu kepada diri masing2, apa yang sudah bangsa ini lakukan untuk keajaiban dunia yang ada di negara ini tersebut, selain hanya berbangga hati bahwa itu sudah mendunia?

Menurut video yang ditayangkan di sana, saat ini hanya ada segelintir ahli yang mampu merawat dan melakukan pemeliharaan di candi tersebut secara terbatas. Apabila ada satu saja batu yang retak dan ada perembesan air, dapat memakan waktu sampai berbulan - bulan untuk memperbaiki dan menyusunnya kembali.


12 CommentsChronological   Reverse   Threaded
simontanutama wrote on Oct 8, '07
gw pernah wisata ke candi borobur, dan sempat kaget karena begitu banyaknya pedagang asongan yg berjualan di tempat tsb, bahkan sampai ke atas-atas segala, pokoknya semerawut. kotor dan tidak terawat.

kalau menurut gw budaya itu bukan saja merupakan cerminan suatu bangsa, tapi merupakan sejarah suatu bangsa. karena kebudayaan itu terbentuk melalui suatu proses yang lama dan sifatnya tidak langgeng. kebudayaan mudah punah jika tidak dipelihara dan langgeng jika dilestarikan.
kebudayaan juga bisa bersifat baik atau buruk, bisa mempengaruhi karakter suatu ras atau bangsa. misal gampang marah, keras, sopan santun, musyawarah. dll sbgnya...


tuhunugraha wrote on Oct 8, '07
Hmmm pemikiran yang sophisticated...
dartz wrote on Oct 8, '07
senangnya kita segaris :)
gue suka banget pengamatan jeli elu,
akan ornamen fashion di borobudur..

gue inget, kolega gue pas masih jadi dosen dan sekaligus kakak kelas gue di DKV untar dulu,
dia megang mata kuliah sejarah,
dan tugas yang dia kasi adalah memfoto relief borobudur,
jadi mahasiswa DKV untar disuruh moto seluruh level,

msalahnya bareng ama gue, dia udah resign,
sekarang ada di Dujail, saudi arabia,

gue akan coba kontak, bilamana ada file digitalnya,
guepengen kasi ke elu, dan gue pengen liat, efeknya ke elu :D

hehehehehe, like i said earlier... let see what we can do :)
viliaciputra wrote on Oct 8, '07
gw pernah wisata ke candi borobur, dan sempat kaget karena begitu banyaknya pedagang asongan yg berjualan di tempat tsb, bahkan sampai ke atas-atas segala, pokoknya semerawut. kotor dan tidak terawat.

kalau menurut gw budaya itu bukan saja merupakan cerminan suatu bangsa, tapi merupakan sejarah suatu bangsa. karena kebudayaan itu terbentuk melalui suatu proses yang lama dan sifatnya tidak langgeng. kebudayaan mudah punah jika tidak dipelihara dan langgeng jika dilestarikan.
kebudayaan juga bisa bersifat baik atau buruk, bisa mempengaruhi karakter suatu ras atau bangsa. misal gampang marah, keras, sopan santun, musyawarah. dll sbgnya...


Hehehe....jadi inget juga. Di pameran itu ada dipajang juga foto - foto kelakuan para turis (kebanyakan lokal) yang demi foto pribadi doank sampai naik2 dan menginjak2 bagian atas candi yang rapuh, trus ada yg buang sampang sembarangan, ada yang jongkok di bagian kepala candi, ada yang buang air kecil di pinggiran candi..dll. Agak2 ironis.

Iya, setuju. Kebudayaan bisa mempengaruhi karakter suatu ras. Dan seharusnya pemeliharaannya bukan dikarenakan itu sebuah warisan, melainkan karena kesadaran bahwa itu adalah sesuatu yg secara alami dan naluriah memang harus dilakukan.
viliaciputra wrote on Oct 8, '07
Hmmm pemikiran yang sophisticated...
Terima kasih, Tuhu. Semoga dari pemikiran yang sederhana ini bisa menghasilkan tindakan nyata yang tidak sekedar sederhana. :)
viliaciputra wrote on Oct 8, '07
Hmmm pemikiran yang sophisticated...
Terima kasih, Tuhu. Semoga dari pemikiran yang sederhana ini bisa menghasilkan tindakan nyata yang tidak sekedar sederhana. :)
viliaciputra wrote on Oct 8, '07
dartz said
gue akan coba kontak, bilamana ada file digitalnya,
guepengen kasi ke elu, dan gue pengen liat, efeknya ke elu :D

hehehehehe, like i said earlier... let see what we can do :)
Hehe...mungkin orang - orang dengan pekerjaan seperti kita ini memang mau tidak mau dituntut untuk memikirkan tentang eksistensi diri dan idealisme, ya To? Jadinya mau tidak mau terus merefleksikan diri dengan cermin alam dan hidup.

Kalau istilahnya temen gue, semua yang bekerja di bidang seni adalah komposer kehidupan. Hehehe..pernyataan yang dalam maknanya.

Anyway, boleh2. Gue belom pernah ke candi Borobudur, dan pasti asik banget bisa ngeliat semua foto2nya. :) Yeap, let see what we can do, To. :)
viliaciputra wrote on Oct 8, '07
Akhirnya, ketemu juga foto2 reliefnya. Jadi baru di post skrg.
Sorry telat. :)
mataharipagi wrote on Mar 10
Hah? Reliefnya bakal disemen? Aduh, masa sih? Sayang banget! Saya pernah ke Borobudur, tapi wkatu kecil Saya kepengen bgt bs ke sana lagi, melakukan ziarah, mengikuti kisah hidup Siddharta Gautama, membaca kisah cinta Manohra dan Pangeran Sudhana.... masa sih?

Saya senang sekali baca tulisan anda. Semua orang bisa melakukan yang terbaik untuk bangsanya. Apalagi anda, fashion tuh dekat sekali dengan budaya. Fashion di suatu zaman menunjukkan watak orang-orang bangsa itu pada waktu tertentu. Semoga fashion yang ada di tangan anda menujukkan cerminan yang positif, selalu :)
viliaciputra wrote on Mar 11
Hah? Reliefnya bakal disemen? Aduh, masa sih? Sayang banget! Saya pernah ke Borobudur, tapi wkatu kecil Saya kepengen bgt bs ke sana lagi, melakukan ziarah, mengikuti kisah hidup Siddharta Gautama, membaca kisah cinta Manohra dan Pangeran Sudhana.... masa sih?

Saya senang sekali baca tulisan anda. Semua orang bisa melakukan yang terbaik untuk bangsanya. Apalagi anda, fashion tuh dekat sekali dengan budaya. Fashion di suatu zaman menunjukkan watak orang-orang bangsa itu pada waktu tertentu. Semoga fashion yang ada di tangan anda menujukkan cerminan yang positif, selalu :)
Dari pameran yang waktu itu saya datangi, dikatakan begitu. Bahkan Reliefnya sudah tidak bisa dilihat, karenanya mereka membuat banner2 panjang berisi gambar2 relief tersebut. Miris ya....

Iya, kalau kamu yang ke sana dan menuliskan tentang kisah - kisah budaya seperti yg kamu tulis di blog kamu skrg, pasti menyenangkan ya. Saya belajar banyak lho tentang budaya Banjar yang kamu tulis, yang terus terang tidak saya ketahui atau mungkin sudah pernah dipelajari dulu tapi tidak betul - betul saya perdulikan. Mungkin itu jeleknya sistem pendidikan yang ada sekarang ini ya, pelajaran dibuat sebagai sesuatu yg harus dihafalkan dan kemudian dilupakan, bukan dibuat menarik sehingga anak - anak yg mempelajarinya merasa tertarik dengan sendirinya, bukan dipaksakan. Jadinya belajar saat anak - anak dan saat sudah dewasa begini, lain sekali rasanya.

Terima kasih ya Ari. :) Diapresiasi begini jadi tambah semangat untuk melakukan yg terbaik. Iya, fashion memang dekat sekali dengan budaya, makanya tanggung jawab terhadap budaya bangsa tidak bisa diabaikan begitu saja. Hehe saya masih belajar dan berusaha menemukan dan melakukan yg terbaik. Doakan ya.

Apa yang kamu lakukan sekarang juga sangat berdekatan dengan budaya. Dan saya cukup kagum karena kamu mau meluangkan waktumu untuk belajar dan berkenalan dengan budaya - budaya yang ada, untuk menuliskannya kembali, dan bahkan di post di wikipedia, itu bukan hal yg mudah, paling tidak untuk saya. :P Jadi, terima kasih ya Ari, saya belajar banyak tentang budaya dari kamu. :) Thx for sharing.
mataharipagi wrote on Mar 12
Waduh, jadi malu. Ga pantes rasanya dapet kata2 tsb. Tp bagaimana pun juga, terima kasih ya. Saya punya beberapa teman yang berkecimpung di bidang fashion, jadi sedikit banyak saya mengerti kerja keras di balik semua karya yang ditampilkan, jadi apresiasi saya terhadap fashion sudah lumayan lah, walaupun ga ngerti-ngerti amat, tapi saya kagum dengan semua pihak yang ada :)

Saya mengerti banget maksud Vilia soal sistem pendidikan kita yang tidak merangsang kita untuk benar-benar belajar tentang segala hal, soalnya saya produk dari sistem pendidikan tersebut juga, hehehe. Tapi karena sekarang kan sudah ada kebebasan untuk sekolah-sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri, ini merupakan angin segar bagi dunia pendidikan tanah air.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah berkunjung ke sebuah sekolah dengan sistem belajar mandiri, namanya Rumah Belajar Semi Palar. Mendengar cerita tentang anak-anak yang belajar di sana dari mulut pendirinya sendiri (Ko Andy Sutioso) bener-bener bikin saya terharu. Benar ya, kita bisa belajar banyak dari orang lain. Terima kasih juga atas tulisan2 Vilia, benar-benar membuat saya merenung dan berpikir banyak :)
viliaciputra wrote on Mar 13
Ari, buat saya apa yg kamu lakukan itu juga bukan hal mudah lho. Kemarin saya baru bercerita tentang blog kamu ke seorang teman saya, dan dia pun terkagum - kagum karena kamu mau bersusah payah menuliskan tentang budaya kita ke wikipedia dll. Memang itu sebetulnya cara yang sangat efektif untuk menyebarkan pengetahuan tentang budaya kita sendiri, termasuk juga untuk para turis. Karena kalau bukan orang kita sendiri yang mendokumentasikannya, siapa lagi? Masa harus menunggu orang luar yang terus membukukannya dan melihat dengan miris buku - buku tentang budaya Indonesia yang dijual di toko buku luar seperti Periplus dll dengan harga tinggi dan penulisnya adalah orang asing?

Saya pribadi terus terang merasa itu adalah hal yg cukup hebat, karena selain kamu harus mencari banyak datanya, juga harus menuliskannya secara detail. Kemarin waktu saya ceritakan tentang kaidah yang digunakan dalam membangun rumah Banjar, teman saya juga jadi terkagum - kagum. Tidak disangka bahwa rumah - rumah itu justru dibangun dengan perhitungan dan visi yang jelas.

Di masa modern ini, orang - orang berpikir bahwa untuk mendapatkan hidup yang sehat dan tenang, harus fokus dengan arsitektur yang indah, interior yang ringkas, perpaduan warna, permainan lighting, dan sebagainya. Padahal yang paling jelas justru hidup bahagia dan sehat itu bisa didapat kalau udaranya bersih, tidak banyak debu, terhindar dari nyamuk dan jenis penyakit, terhindar dari binatang buas maupun serangga, dan tentunya terhindar dari bahaya. Tidak disangka, hal - hal itu justru bahkan sudah dipikirkan dalam pembangunan rumah Banjar pada masa lalu. Hal itu membuat saya berpikir dan bertanya - tanya, mungkinkan kedewasaan dan keperdulian masyarakat jaman sekarang memang sebegitu minimnya? Apakah eksistensi tampilan luar jauh lebih penting dibanding daya guna dan fungsi?

Tentang pendidikan, saya juga termasuk produk dari sistem pendidikan itu kok. Hehehe... makanya pengetahuan umum saya sangat minim. Bagi saya waktu itu yg perlu saya lakukan hanya menghafal untuk ujian, setelah selesai.. bakar saja bukunya dan hapus file di dalam kepala. :D Huhuhu... sekarang kalau diingat - ingat menyesal sekali. Ada banyak hal yg penting dan seharusnya harus diketahui, jadi hilang tak berbekas. Nasionalisme bagi saya dulu hanyalah menghafal Pancasila dan UUD45, dan Indonesia hanyalah Jakarta. Tapi setelah melihat banyak daerah lainnya, menemui banyak jenis manusia lainnya, melihat negara - negara lainnya, baru sedikit demi sedikit mengerti apa itu nasionalisme. Long way to go yg pasti...:P

Wah, jenis sekolah itu seperti sekolahnya Toto Chan mungkin ya. Sudah pernah baca buku Toto Chan? Sekolah dengan sistem yang sangat bagus, mengembangkan daya tarik setiap individu si anak sehingga apa yang dipelajarinya murni karena ketertarikan bukan keterpaksaan, sehingga proses belajar bukan sebuah beban, melainkan sebuah kenikmatan. Jadi sampai dewasa, proses belajar tersebut akan terus berlangsung secara alami. Menyenangkan kalau bisa sekolah di tempat seperti itu ya. DI review donk sekolahnya, Ari. :)

Iya, kita bisa belajar banyak dari orang lain. Aku yakin itu. Terima kasih juga ya Ari. :) Kita saling berbagi dan saling belajar ya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help