Blog EntryLebih lanjut tentang eco fashion...Jan 14, '08 3:57 PM
for everyone
Beberapa hari ini, terjadi diskusi menarik baik melalui postingan di Fasity.Com ataupun melalui chat room mengenai eco fashion dan kemungkinan untuk mengaplikasikannya secara sederhana ataupun sebagai sebuah koleksi keseluruhan. Diskusinya terjadi di postingan tentang forecasting, namun cukup menarik untuk disimak lebih lanjut bagi yang berkepentingan, maupun yang bergerak di industri fashion. Semoga berguna, dan ditunggu masukan dari teman - teman yang lainnya. :) Thx.

URL Artikel: http://www.fasity.com/node/682

Part of comments:

yufie

Salam kenal..
Sedikit pertanyaan, tp sdikit penting bwat saya.
Ramai2 org membicarakan tentang fenomena global warming. Kalau tema tsb, alam dan teman2nya diaplikasikan dlm koleksi busana, ramai2 pula para designer memproklamirkan fashion eco-friendly. Which is sepertinya sangat mahal & kompleks utk diaplikasikan oleh para desainer lokal, independent pula. Jadi fashion ec0-friendly versi yg seperti apa yg bisa kita aplikasi dengan sederhana..
thx..

vilia

Salam kenal juga Yufie.
Wah pertanyaan yang bagus. :) Memang benar kalau sebuah koleksi dibuat secara eco friendly, cost nya lebih besar daripada yang biasa. Pertama, mulai dari penanaman tumbuhan kapas yang dilakukan tanpa pestisida, kontrol kualitas, dan lainnya sudah membuat harga menjadi lebih tinggi. Ditambah proses produksi yang serba natural, tentunya jauh lebih tinggi costnya dibandingkan tidak secara eco friendly. Namun hal tersebut Memang sedang menjadi perhatian dunia dan layak untuk diperjuangkan demi kepentingan bersama.

Cara termudah untuk ber-fashion secara eco friendly adalah dengan menggunakan eco fashion itu sendiri. Misalnya dengan mendaur ulang pakaian lama menjadi pakaian baru. Menggabungkan dua t-shirt menjadi satu dengan style yang berbeda. Menambah guna produk yang sudah lama dan tidak terpakai. Itu cara yang paling mudah dan paling murah, yaitu dengan menggunakan kreatifitas masing - masing.

Di UK dan US sudah dikenal profesi sebagai T-shirt Architect, di mana mereka bekerja untuk merombak dan merancang ulang t-shirt bekas. Apabila Yufie pernah mengetahui show bernama Diva on a Dime (dulu di JakTV, skrg entah masih ada atau tidak. Mungkin bisa cari di YouTube), Yufie bisa lihat betapa pakaian bekas bisa di daur ulang menjadi begitu bagusnya.

Untuk para desainer lokal, adalah dengan memperhatikan packaging produk. Sebagai salah satu pemilik usaha fashion, saya sendiri mendapatkan kendala dari segi packaging produk pengganti plastik, dan masih mencari solusi terbaiknya.

Selain itu, tentunya Yufie mungkin bisa menggunakan bahan - bahan daur ulang pada koleksi Yufie. Seperti contohnya penggunaan tutup botol, seperti yg ditampilkan di beberapa artikel di bawah ini:

I Am a Plactic Bag!
Green is Glam
Recycled Jewel
a(more) Bottle Cap(s)
Ecoist - The Fashionable and Eco Friendly Bag

Untuk artikel penjelasan tambahan tentang green and eco fashion, bisa di lihat di : Organic dan Eco Fashion

Rika Riskawati

hai,
berbicara tentang eco fashion, aku meneruskan pertanyaan dari yufie nie...

apakah memungkinkan tidak tema seperti eco fashion itu dijadikan suatu tema tuk di jadikan koleksi, apakah dari segi fabric, design, colour yang bisa dijadikan panutan atau mewakili si tema tersebut.

Sebenarnya tema eco fashion inie awalnya dari idenya dari mengangkat tema dunia global warming. Apakah bisa dijadikan suatu koleksi pakaian...

best regrads,
reika

vilia

Hi juga Rika. :)

Menurut saya pribadi, sangat mungkin untuk menjadikan eco fashion sebagai suatu tema tertentu dalam sebuah koleksi. Baik dari segi fabric, design, color, maupun secara keseluruhan hingga ke aspek terpenting yaitu fungsinya.

Desainer Indonesia, Ramadani sudah menggunakan batik daur ulang yang di proses secara eco fashion untuk salah satu koleksinya beberapa waktu yang lalu.

Untuk tema, tema global warming sendiri sudah merupakan suatu tema yang sangat kuat dan sangat dikenal luas. Tinggal bagaimana mengintepretasikannya dengan kreativitas dalam bentuk produk fashion yang mampu meningkatkan awareness sekaligus berfungsi sebagai pendukung dari eco fashion itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat ngobrol banyak dengan beberapa desainer luar dan desainer lokal, maupun pengembang - pengembang industri di event Bali Fashion Week VII, dan saya sependapat dengan mereka: kebanyakan desainer dan industri mode sekarang ini terlalu mementingkan desain dan packaging serta menjual mimpi dan ilusi, tanpa memperhatikan fungsionalitasnya. Padahal aspek utama yang harus diusung adalah fungsionalitas itu sendiri, karena implementasi setiap ide baru akan bisa berarti saat itu berfungsi dengan sebagaimana mestinya.

Jadi, jangan lupakan sisi fungsi terutama untuk eco fashion ini, karena yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, bukan sekedar idealisme yang di komersialisasi. :) Itu menurut saya pribadi. Yang lain mungkin ada masukan yg lainnya?



muhammadreza wrote on Jan 15
ide tentang eco-fashion, sad to say, sepertinya susah diterapkan di indonesia dlm waktu dekat, deh. Kecuali ada disainer yg sukses memasyarakatkannya sbgmana Edward Hutabarat me"masyarakatkan kembali" batik. masalahnya, selain rakyat indo belum melek terhadap pentingnya eco-fashion (global warming aja kayanya masih jauh dari pikiran mereka), disainer2 lokal sendiri kan masih lebih banyak terfokus dengan memproduksi busana sesuai order (kayak2 kutur gitu). kalo pun mereka bikin eco-conscious collection, yg mengenakannya ya pelanggan2 loyalnya doang kan (a.k.a socialite yg jumlahnya cuma segelintir aja).
viliaciputra wrote on Jan 15, edited on Jan 15
:) Betul sekali, Reza. Di Indonesia itu masih berupa wacana, belum betul - betul memasyarakat. Tapi itulah yang jadi tugas dan tanggung jawab yang di emban oleh pelaku dan industry fashion di Indonesia.

Kemaren aku baru aja nulis tentang budaya dan hubungannya dengan fashion di Fasity.Com, sebetulnya udah pernah aku post di sini, tapi di sana aku tambahkan opini pribadi tentang fashionnya. Dan isinya kurang lebih sama dengan opini kamu.

Cukup hangatnya pembahasan mengenai eco fashion dan segala aplikasinya dalam industry fashion di Fasity ini sejak beberapa hari yang lalu, membuat saya terpikir juga untuk sekalian memperdalam sebuah to-do-list yang sama pentingnya, namun hampir kita lupakan.

Kita semua menyadari akan pentingnya budaya dan kita mengemban tanggung jawab yang sama besarnya dengan mereka yang bekerja di bidang lain, untuk melestarikan budaya kita sendiri. Mudah untuk dikatakan, tetapi sulit untuk dilakukan. Bahkan seorang wartawan Jepang yang saya temui di Bali Fashion Week pun mengatakan hal yang sama saat saya dan Fe mengatakan bahwa kami berkomitmen untuk mengusahakan membuat koleksi dari budaya Indonesia.

Sulit memang. Terlebih lagi dengan keadaan pasar Indonesia yang masih men-sah kan dan menerima dengan lapang hati dan dada (kalau tidak dapat dikatakan menyambut) segala jenis fashion yang berasal dari mana saja yang penting luar Indonesia. Dilema semakin bertambah saat Indonesia sendiri tidak memiliki karakteristik fashion tertentu yang kuat dan berciri khas. Semakin bertambah lagi dengan besarnya permintaan di luar ketimbang di dalam negeri sendiri, sehingga komersialisasi budaya menjadi komoditas yang tereksploitasi dengan semena - mena hingga hampir tidak menyisakan celah untuk sebuah hak cipta ataupun hak intelektual suatu bangsa.

Bagaimana kita menyikapinya?

Sama seperti efek rumah kaca. Sama seperti efek green dan eco fashion. Dengan menggelindingkan bola kesadaran terhadap semua pihak yang berkepentingan dan bersama - sama mencapai sebuah titik di mana kreatifitas dan komersialitas, dapat bergabung dengan fungsionalitas, identitas diri, dan tentunya keberlangsungan hidup manusia, secara nyata dan bukan hanya dalam bentuk idealisme.

Banyak pihak mengatakan, konsumen Indonesia kini sudah semakin pintar, semakin menghargai hasil karya anak bangsa. Pertanyaannya adalah konsumen yang mana? Dan anak bangsa yang mana? Tidak ada gunanya kalau hasil karya tersebut hanya dinikmati sebagian kecil konsumen dan menguntungkan sebagian kecil anak bangsa. Toh, kepandaian konsumen Indonesia sekarang ini juga tidak terlepas dari peran serta semua pihak yang tanpa lelah berusaha menggelindingkan bola kesadaran tersebut.

Karenanya kita sebagai pelaku industri, justru harus lebih giat menggelindingkan bola kesadaran tersebut, sambil terus memperbaiki diri, melakukan penelitian, dan terus meningkatkan kreatifitas.

Melestarikan budaya bukan hanya batik dan angklung, bukan hanya candi borobudur dan ukiran Jepara, pun bukan hanya membeli produk dalam negeri, apalagi memboikot produk luar negeri.

Mungkin benar kata pepatah, "Belajarlah hingga ke negeri China."
Sudah saatnya kita aplikasikan pepatah tersebut. :) Bersama, segalanya lebih mudah. Bagaimana menurut anda?


Intinya, kita lakukan dan usahakan saja sekecil apapun itu. Tapi tidak boleh tamak juga karena perubahan tidak terjadi dalam sekejap. Yang penting agendanya jelas, dan ada kerjasama yang kuat secara berkesinambungan. Itu menurutku. Menurutmu gemana?
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help