Pernah sekali waktu di SMU dulu, hampir semua anak di kelas dapat merah di mata pelajaran fisika. Yang membuat merah adalah satu soal, yang hampir semua anak menjawabnya dengan salah. Soalnya cukup panjang, dengan beberapa keterangan tambahan yang juga cukup panjang. Siapa sangka jawabannya sangat sederhana?
Teringat ucapan guru fisikaku waktu itu, "Kalian mikirnya terlalu rumit sih. Selalu berpikir bahwa soal yang diberikan adalah soal sulit dan rumit, jadi mikir jawabannya berputar - putar dengan berbagai kemungkinan. Padahal soalnya mudah dan sekali jalan sudah langsung beres."
Kurasa, aku masih sering jatuh di perangkap yang sama. Berpikir terlalu rumit untuk sebuah masalah yang sederhana. Memandangnya terlalu jauh dan terlalu berliku hanya karena keterangan yang terlihat begitu banyak, padahal inti pertanyaannya sederhana.
Sayangnya, sekarang tidak ada yang bisa memberikan kunci jawaban untuk membandingkan benar atau salahnya. Bahkan tidak ada yang bisa memberikan jawaban mana yang benar. Benar selalu abu - abu. Benar selalu tergantung situasi dan kondisi. Benar selalu tergantung pilihan. Dan terkadang, benar tidak lagi penting.
Berpikir sederhana, sepertinya begitu sulit di jaman yang serba rumit ini. Otakku telah terbiasa dilatih untuk melakukan antisipasi akan berbagai hal. Memastikan untuk meminimalisasi masalah yang akan kuhadapi dan kulalui. Mengkalkulasi daya dan usaha yang harus diberikan, berbanding dengan hasil yang kuterima. Hingga hampir tidak dapat kupercaya apabila masih ada masalah yang sederhana di jaman ini.
Namun ternyata sungguh. Masalah yang ada, seringkali begitu sederhana. Dan penyelesaiannya terlebih sederhana lagi, hingga membuatku terheran - heran dan bertanya - tanya bagaimana masalah sesederhana itu bisa muncul ke permukaan menjadi sebuah gelombang besar?
Berpikir sederhana. Sepertinya aku masih harus belajar lagi.
-------------------------------------------------------------------------
"Kalau ingin mencari solusi, jangan mencari dukungan."
"Jangan bertanya tentang kebahagiaan pada orang yang tak tahu apa itu bahagia. Bertanyalah pada orang yang tak tahu apa itu sedih."
"Ada kalanya dan ada baiknya pedih disimpan di dalam hati. Agar darahmu tak mengental karena kekurangan air mata."
"Berhentilah mempermasalahkan kalau pada akhirnya kamu harus melupakannya. Permasalahkan hanya hal - hal yang harus kau ingat seumur hidupmu."
"Berhentilah khawatir akan masa depan. Selama itu tidak membunuhmu hari ini, (itu) tidak akan membunuhmu besok."
"Coba hilangkan bagian untuk dirimu, dan coba tambahkan bagian orang lain."
"Berpikirlah sederhana. Masalah di dunia ini tak lebih dari masalah sederhana yang ditunda - tunda penyelesaiannya."
Beberapa nasihat bagus yang kuterima dalam beberapa bulan ini. Terima kasih.