
Barusan dikasih tau seorang sahabat (Thx Fen :P), link untuk artikel wawancara di SWA (yg sudah lama sebetulnya... huhuhu maafkan kemalasan saya untuk mengetik ulang dan mencarinya...), jadi saya coba copy artikelnya di sini.
Bagi yang ingin membacanya, semoga lebih mudah ya, ketimbang baca hasil scan yg ngejelimet.
-------------------------------------------------------------
Bisnis Online Department Store Villia CiputraKamis, 24 Mei 2007
Villia Ciputra mungkin tidak pernah mendesain hidupnya untuk menjadi wirausaha. Namun ternyata, panggilan jiwa itu sudah datang sejak ia masih duduk di bangku kuliah. Usahanya diawali dengan berjualan celana jins dan kaus di kampusnya. “Waktu ada teman yang menawari saya jualan, eh malah hasil jualan saya lebih banyak daripada dia,” Villia mengenang kejadian di tahun 2002 itu. Sejak itulah, wanita yang pernah sekolah di Higher Education Learning Programme, Malaysia, dan kuliah D-3 di London School Public Relations, Jakarta ini mulai serius menekuni bisnis fashion.Perlahan tapi pasti, jenis produk fashion yang dijualnya terus bertambah. Villia akhirnya memutuskan untuk membuka butik dan mendesain produknya sendiri. Butik yang berlokasi di rumahnya di Cipete merupakan awal baginya menekuni bisnis fashion lebih serius. Modalnya hanya Rp 500 ribu. Itu pun hampir seluruh tabungannya terkuras. “Banyak yang protes: wah rumahnya jauh, buka di tempat lain dong,” ujar wanita kelahiran Jakarta 19 Mei 1982 ini menirukan permintaan pelanggannya. Akhirnya, dibukalah butik TurQuoise di ITC Kuningan. Di saat bersamaan Villia juga menjajaki penjualan produk secara online. “Saya sudah kenal Internet sejak 1998, waktu sekolah di Malaysia. Kala itu Internet sedang booming,” imbuhnya sambil menyebutkan bahwa ia dibantu PT Inalix.
Tahun 2005 Villia memutuskan untuk benar-benar menekuni online shopping. “Setelah saya perhatikan perkembangan dua-tiga tahun butik di ITC Kuningan, sepertinya prospek ke depan jauh lebih bagus online store,” katanya dengan nada optimistis. Menurutnya, manusia kini makin sibuk, begitu pula di masa mendatang. Selain itu, orang muda yang menjadi sasaran utama pasar produknya sudah makin mengenal Internet. “Ketergantungan mereka pada Internet tinggi. Apalagi jika suatu saat nanti dibuka gateway pembayaran, akan lebih besar kesempatan online shopping untuk berkembang,” ia menjabarkan.
Selama satu setengah tahun Villia membangun bisnis online ini, nama Simplight.Net sekarang dikenal bukan saja di pasar lokal, tapi juga di mancanegara. Awalnya pun Simplight.Net cuma memajang produk-produk hasil karya Villia sendiri, diberi merek Simplight (Simple & Light), tapi kini sudah ada 20-25 pemasok produk yang memercayakan produknya dipajang di online department store-nya.
Di website-nya, para pemasok bisa melihat historis penjualan, begitu pun para konsumen bisa melihat historis pembelian mereka. “Kami akan langsung mengirim konfirmasi penjualan dan pembelian. Invoice pun bisa dikerjakan secara online,” tutur Villia. Pembeli dapat langsung melihat jumlah invoice berikut ketersediaan barang yang dipesannya. Mengingat pembayaran belum memungkinkan dilakukan dengan kartu kredit, Villia hanya menyediakan fasilitas pembayaran dengan cara transfer, cash on delivery (khusus wilayah Jakarta), dan letter of credit (untuk pembelian partai besar).
“Kebanyakan pelanggan kami sangat loyal,” kata Villia bangga. Pasalnya, ia selalu berupaya melayani pelanggan sebaik-baiknya. Sebagai contoh, ia memberi garansi pengembalian produk selama tiga hari jika tidak sesuai dengan ukurannya. Bisa pula ditukar dengan model lain jika tidak sesuai dengan yang diinginkan. Atau jika tidak ada model yang sesuai untuk ditukar, uang yang sudah dikirim bisa disimpan di fasilitas deposit untuk pembelian berikutnya.
Villia selalu meng-update produk-produk yang dipajang di website-nya. “Jangan sampai ada stok mati,” katanya menegaskan. Untuk itu, ia didukung para perancang yang siap menganalisis tren fashion. Merekalah yang memberi masukan kepada para pemasok mengenai barang dan warna apa saja yang bakal laku nantinya. “Kami beri guideline fashion yang akan booming,” ucapnya. Bahkan, untuk menguatkan guideline fashion ke depan, ia dibantu analis tren fashion di luar negeri, seperti dari Inggris, Singapura, dan Jepang (masing-masing satu orang). “Mereka digaji lho, jadi mereka rutin memberikan masukan tentang tren fashion,” kata Villia yang memiliki lima karyawan.
Kini Simplight.Net sudah dikenal hingga ke Eropa, London, Paris, Cina, Singapura, Malaysia, Jepang, dan beberapa negara lain. “Tapi penjualan kami masih dominan lokal kok, sekitar 80%. Kebanyakan adalah pelanggan ritel,” ujar Villia tanpa mau merinci nilainya. Adapun sebagian besar pembeli loyalnya adalah mereka yang punya toko, butik, ataupun pemasok department store (konvensional – Red.).
Villia pun memanfaatkan acara televisi untuk berpromosi, misalnya Insert dan Ceriwis (Trans TV). Dengan begitu, ada dua keuntungan yang diperoleh: Simplight.Net memasok secara rutin pakaian untuk syuting dan mereknya pun dipampang pada credit title di akhir acara; selain itu artisnya bisa menjadi pelanggan. Misalnya, Indie Barens – pembawa acara Ceriwis – sekarang merupakan pelanggan tetapnya.
Salah satu pemasok Simplight.Net, Imelasari Kuswantina, merasa senang bisa bergabung di website milik Villia itu. “Awalnya hobi mendesain aksesori dari kristal, ternyata banyak yang menanyakan. Lalu ada teman yang menyarankan dipajang di Simplight.Net,” kata wanita yang akrab disapa Imel ini. Salah satu personel band Ten 2 Five ini awalnya tidak percaya dengan pola penjualan melalui website. Namun, setelah bertemu Villia, ia jadi yakin dan merasa prosesnya tidak serumit yang dia bayangkan. Mengusung merek Imela.K, produk yang dijualnya belum terlalu banyak, berkisar 10-15 item. “Produk saya kan eksklusif, tidak massal, dan saya yang membuatnya sendiri,” ujar wanita kelahiran 24 tahun lalu ini.
Imel berharap online fashion shopping ini bisa dikenal lebih luas, terutama di pasar mancanegara. “Saya juga ikut bantu promosi di fans club dan Friendster Ten 2 Five,” imbuhnya. Sama seperti Imel, Villia pun berharap demikian, bahkan ia ingin website-nya dapat menjadi komunitas, terutama bagi para wanita yang tidak tahu bagaimana memulai usaha.
Herning Banirestu.
URL: http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=6017
Arti Wawancara SWA Bagi SayaKlarifikasi Wawancara Majalah SWAProfil Simplight.NETArti Kesuksesan Bagi SayaUntuk pertanyaan tentang artikel dan lainnya, bisa PM saya atau kirim email ke info@simplight.net