
Sejak bulan kemarin, warna - warni di kolom jadwal saya tiba - tiba bertambah tak terkendali. Stress? Lumayan. Dan biasanya pertanyaan selanjutnya adalah: "Belanja donk?"
Ya, belanja termasuk salah satu kegiatan yang paling banyak dilakukan wanita saat sedang stress, suntuk, butuh udara segar, butuh cuci mata, ada duit nganggur, pengen liat - liat aja, ....(silahkan tambahkan sendiri list alasannya). Salah seorang sahabat saya bahkan berkata, "Belanja itu salah satu kenikmatan hidup". Ya ya, mungkin memang begitu, tapi kalau kebanyakan belanja dan dompet kosong, ya jadi tidak nikmat. Karenanya kali ini saya mencoba cara yang sedikit berbeda, namun ternyata jauh lebih efektif dan efisien.
Kalau biasanya saya akan misuh - misuh sendiri dan terbawa dengan stress itu, yang tentunya menyebabkan emosi saya turun naik tak tentu, dan membuat saya tak ragu - ragu mengosongkan dompet, kali ini saya mencoba menjalaninya dengan santai dan melewatkan beberapa hal yang saya anggap tidak terlalu penting. Beberapa diantaranya adalah:
Mematikan PDAYang pertama saya lakukan adalah mematikan PDA saya. Hehehe ya saya tahu kalau PDA dimatikan maka jadwal tidak bisa dilihat, dan memang itu tujuannya. Tentu bukan untuk melupakan jadwal dan tanggung jawab yang ada, tapi sekedar mengandalkan naluri dan ingatan saya. Kalau memang hal itu penting bagi saya, saya pasti mengingatnya. Dan begitu juga kalau tidak penting (atau minimal tidak urgent), maka pasti tidak ingat.
Menentukan Jadwal KeinginanYang kedua saya lakukan adalah menyusun ulang jadwal seadanya yang saya ingat. Alih - alih dimulai dengan apa saja yang HARUS saya lakukan, saya justru memulai dengan apa saja yang INGIN saya lakukan dalam keseharian saya. Saya mulai mendata dari jam berapa saya ingin bangun, makan, minum teh, bebersih, beristirahat, baca buku, hingga tidur. Setelah itu baru saya masukkan apa - apa yang harus saya lakukan di jam - jam yang kosong.
Percaya atau tidak, ternyata jam kerja saya tetap 8-9 jam/hari! Tidak berkurang sama sekali. Saya pun terkaget - kaget menyadari kebodohan saya yang luar biasa ini. Rupanya selama ini saya terbebani dengan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi beban. Hanya sedikit perbedaan persepsi sudah membuat saya menjalani hari saya dengan jauh berbeda.
Mengganti Tone SMSYang ketiga saya lakukan adalah mengganti tone menjadi silent untuk sms di handphone saya. Mengapa? Karena setelah saya perhatikan, kebanyakan aktivitas dan fokus kerja saya terganggu karena bunyi sms yang amat sangat sering, dan kebanyakan diantaranya tidak membutuhkan jawaban segera, pun tidak terlalu penting.
Dipikir - pikir memang wajar kan? Kalau penting dan harus dijawab segera, saya yakin mereka pasti memilih untuk menelepon saya secara langsung. Andaikan isinya memang penting, toh tetap tidak bersifat urgent, jadi tidak perlu saya tanggapi saat itu juga, melainkan cukup pada waktu di mana saya memang bisa membalasnya. Biasanya yang dibutuhkan dari SMS hanyalah kepastian untuk dijawab. Dan itu pasti saya lakukan.
InvisibleAnda yang akrab dengan dunia chatting, terutama di YM, pastinya akrab dengan sign yang satu ini. Yap, invisible. Alias membuat diri terlihat offline meskipun sedang online. Percayalah, ini akan sangat membantu fokus anda untuk hal - hal yang sedang dan harus anda kerjakan.
Godaan untuk chatting itu terlalu lembut untuk ditampik. Mulai dengan sedikit disapa atau menyapa, tanpa sadar 3 jam kerja sudah hilang begitu saja. Belum lagi kalau pekerjaan yang saya lakukan sedang berada di area kreatif seperti mendiskusikan design, mencari ide dan menyusun mood board, sulit sekali untuk membangun ulang rantai fokus untuk ide - ide yang tadi sudah bersliweran.
Memang sih, bisa saja dengan mencantumkan busy sign ataupun away sign, tapi terus terang saja, sign - sign itu terkadang tidak mempan untuk orang - orang yang bolot, tidak perduli, maupun orang - orang yang mencari teman ngobrol yang belum dikenal. Sedangkan untuk offline total, seringkali memang butuh online karena diskusi dan meeting yang ada dilakukan secara online.
Melakukan Yang Harus DilakukanDan bukan memberikan penjelasan mengapa hal tersebut belum dilakukan. Ya, dengan hanya mengandalkan ingatan dan naluri saya, tentu ada banyak hal yang terlewatkan. Dan meskipun hal - hal yang terlewatkan tersebut tidak terlalu penting, bukan berarti tidak perlu dilakukan atau ditindak lanjuti.
Hal - hal tersebut merupakan hal - hal yang tetap harus diselesaikan dan berpotensi untuk menjadi hal - hal yang penting dan memiliki urgensi tinggi nantinya, apabila tidak segera ditindak lanjuti. Dan satu - satunya yang harus saya lakukan hanyalah dengan melakukan apa yang harus dilakukan, ataupun menyelesaikan apa yang harus diselesaikan. Menjelaskan hanya menambah lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai penyelesaian.
Menyusun Ulang Jadwal KeseluruhanApabila semua yang dituliskan di atas merupakan langkah yang saya ambil untuk jangka pendek, maka ini adalah langkah yang harus dilakukan untuk investasi waktu jangka panjang. Menyusun ulang jadwal keseluruhan dan memastikan apa - apa yang penting untuk dilakukan.
Seringkali kita salah kaprah bahwa menyusun jadwal berarti menentukan apa yang harus kita lakukan. Padahal yang benar, menyusun jadwal ada kaitannya dengan tujuan hidup. Atau visi misi. Jadi selalu pastikan apa yang ingin dicapai, baru tentukan bagaimana mencapainya.
Mengalahkan Diri SendiriAlias disiplin diri. Selain tentang waktu dan jadwal, juga tentang menghindari kegiatan berbelanja sebagai pelarian stress. Dari semuanya, ini yang paling sulit. Lebih sulit lagi karena seluruh kendali ada di tangan saya. Ibaratnya, saya bos nya, jadi saya mau apa ya terserah saya. Tapi ini adalah tantangan terbesarnya.
Dan begini cara termudah yang saya temukan untuk melakukannya:
Setiap reaksi dan tindakan kita sebetulnya terbagi dua. Satu adalah tindakan yang bersifat secara langsung dilakukan atau refleks, dan satu lagi adalah tindakan yang memerlukan kerja otak untuk menganalisa terlebih dahulu. Cara termudah untuk melakukan sesuatu secara langsung adalah dengan mengubah kebiasaan tersebut menjadi sebuah tindakan refleks. Dan refleks dibentuk oleh kebiasaan.
Jadi, cukup membuat diri saya terbiasa dengan semua jadwal dan kegiatan saya sekaligus pemenuhannya, maka secara bertahap dan pasti, mematuhi jadwal yang dibuat akan menjadi sebuah tindakan refleks bagi saya. Saya katakan akan, karena saya belum mencapai tindakan refleks ini.. :) Tapi saya sudah mencoba mengubah banyak kebiasaan menjadi tindakan refleks dan ini amat sangat menguntungkan.
Nah, yang berhasil saya temukan dan lakukan baru sampai di sini. Ada saran tambahan kah dari teman - teman? :D
Pic: everydaypeoplecartoons.com