Akhirnya sore ini saya sempat juga mampir ke Inacraft. Itu pun setelah dipaksakan jalan karena baru teringat saat sudah jam 3 sore. Seperti biasa, Inacraft selalu luar biasa ramai dan karena hari ini hari terakhir, maka pengunjung pun membludak luar biasa. Pintu - pintu masuk utama ditutup dan semua mobil dialihkan arusnya ke arah pintu di bagian ujung. Saking penuhnya, mobil - mobil sampai mencari tempat parkir hingga ke tempat - tempat yang jauh dan berjalan kaki ke arah JHCC.
Batik Di Segala Pejuru
Seperti yang sudah bisa diduga, batik saat ini sedang sangat trendi, memiliki tempat khusus di Inacraft 2008 ini. Untuk produk batik dan perhiasan, disediakan satu hall khusus, yaitu hall A. Sejauh mata memandang, batik di mana - mana. Semua jenis pengrajin, model, dan penjual batik tumplek blek blek di sana.
Saya tentu sangat bersemangat. Selain saya menyukai batik, saya juga memang mengincar kain batik untuk produksi tas dan pakaian musim nanti. Yang saya incar tentunya para pengrajin batik dari luar daerah, karena mereka memiliki ciri khas masing - masing. Saya pun berputar keliling - keliling sambil melihat - lihat barangkali ada model baju - baju batik yang lucu.
Meskipun ada cukup banyak kain yang lucu dengan motif unik dan bahan yang bagus, namun sisanya, terutama pakaiannya, membuat saya hanya mampu terbengong - bengong melihatnya. Mengapa? Karena sejauh mata memandang, dan sejauh yang saya perhatikan, hampir semua booth menjual pakaian batik dengan model dan motif yang mirip - mirip satu dengan lainnya!
Begitu - Begitu Saja
Memang, batik sedang in, dan tidak aneh kalau semuanya ingin menjual produk pakaian batik yang sudah jadi, tapi di sinilah letak kelemahan mental bangsa ini, yaitu kebiasaan meniru. Meniru model batik yang dipakai celeb, meniru desain batik karya perancang, meniru pola batik tertentu dan lainnya, hingga hampir semua toko yang saya lihat, model pakaian batiknya tidak jauh - jauh. Begitu - begitu saja.
Ini sebetulnya yang sangat disayangkan sekali. Padahal para pengrajin batik sudah terbiasa dengan motif dan potongan bahan, sudah terbiasa dengan pola dan susunan, tapi karena memaksakan mencontoh model yang sedang trend saat ini, mereka jadi tidak menonjolkan kekuatan permainan pola, warna, dan motif batik mereka sendiri. Seolah baju - baju yang ada yang penting terbuat dari batik saja. Tanpa memperdulikan bagaimana penyusunan warna yang lebih cantik, pola pakaian dan motif dikombinasikan, maupun detail apa yang bisa ditambahkan.
Pakaian yang seharusnya bisa tampil cantik dan mewah dengan perpaduan dan penyusunan yang tepat, jadi terlihat biasa saja dan murahan karena warna yang digunakan kurang matching, ataupun kain yang digunakan hanya sejenis untuk mengirit bahan. Pakaian yang seharusnya bisa menjadi unik dan seperti angin segar dengan menunjukkan segala perbedaan dan ciri kepribadian masing - masing, hampir tak ubahnya seperti seragam saja. Semua semata demi mendapatkan keuntungan sebanyak - banyaknya dengan mengikuti tren yang ada.
Mereka tidak sadar bahwa dengan begitu, mereka justru membantu mempercepat kematian batik itu sendiri. Kekuatan batik terletak pada sentuhan personalnya. Itu sebabnya batik tulis selalu lebih mahal dari batik cap, meskipun batik cap biasanya motifnya justru lebih sempurna. Kekuatan batik terletak pada perbedaan motif di masing - masing batik, dan hasil output yang unik dan berbeda untuk setiap individual. Jadi apabila batik diolah menjadi sama atau saling mirip satu dengan lainnya, maka nilai personal batik itu tidak akan memukau lagi.
Bukan Tentang Pendidikan
Sebagian orang mungkin akan mengatakan, ini adalah kelemahan para pengrajin, maupun para penjual retail tersebut, di mana kebanyakan dari mereka tidak memiliki background pendidikan fashion desain dan bahwa mereka hanya belajar dari pengalaman dan mengandalkan insting, sehingga hasil karya yang dibuat kurang kuat pada konsep desainnya.
Tapi menurut saya, ini bukan masalah keterbatasan pendidikan, melainkan masalah pemahaman secara keseluruhan dan masalah mental. Andaikan mental yang diutamakan adalah tentang mendapatkan kepuasan menciptakan sesuatu yang unik dan berbeda, tentu outputnya akan berberda dengan mental yang mengutamakan tentang bagaimana mendapatkan hasil penjualan yang sebesar- besarnya.
Istilahnya, kalau sekedar orang bodoh namun jujur dan kreatif, diajari sedikit pasti sudah bisa jadi pintar dan tidak akan sekedar puas dengan sesuatu yang sama ataupun sesuatu yang bukan desainnya sendiri. Dan kalau sekedar memastikan motif, pola dan kekuatan warna untuk menciptakan sesuatu yang unik, saya yakin insting para pengrajin dan penjual itu seharusnya bisa lebih baik dari itu. Tapi kalau mentalnya sudah inginnya mendapatkan keuntungan sebesar - besarnya untuk dirinya sendiri bagaimanapun caranya, maka meski sudah menjadi yang terpandai di bidangnya, kepandaiannya itu justru hanya akan digunakan untuk meniru yang lain secara sempurna.
Di sini saya tidak bermaksud menyalahkan para pengrajin atau para penjual yang barangnya mirip - mirip. Pun tidak bermaksud mengatakan bahwa usaha mereka untuk mencari keuntungan dari bisnis mereka adalah salah. Tidak sama sekali. Saya sangat mengerti bahwa sebuah bisnis haruslah menguntungkan baru dapat dikatakan sebagai sebuah bisnis.
Yang ingin saya tegaskan di sini adalah pemahaman tentang mengapa semua ini menjadi begitu penting. Mengapa orisinalitas dan perbedaan adalah sesuatu yang penting dan harus menjadi hal yang diutamakan. Dan mengapa budaya tiru - meniru harus kita hapuskan secara perlahan - lahan.
Moment dan Kesinambungan
Sekarang ini adalah sebuah moment yang sangat penting bagi, bukan saja industri mode dan batik, melainkan juga seluruh masyarakat Indonesia. Apabila selama ini batik kurang diminati dan kurang dihargai di negeri sendiri, dan diperlukan banyak usaha dari semua pihak untuk menaikkan derajat batik, maka sekarang ini adalah saatnya di mana batik sedang betul - betul berada di atas angin. Semua orang menginginkan batik. Tidak perlu lah memperdulikan apakah mereka benar - benar mencintainya atau tidak. Yang pasti semua orang menginginkannya.
Dengan diminatinya batik, berarti permintaan bertambah. Permintaan bertambah berarti pemasukan bertambah. Baiknya lagi, pemasukan ini yang mungkin tadinya keluar sebagai pembelanjaan untuk produk - produk luar negeri, kini justru masuk ke pundi - pundi masyarakat dan industri negeri ini sebagai pembelian produk dalam negeri. Ini berarti roda ekonomi berputar, tenaga kerja terserap, dan bukan tidak mungkin keadaan ekonomi negara ini bisa bangkit perlahan - lahan yang dimulai dari satu sisi ini.
Masalahnya adalah, bagaimana caranya mempertahankan situasi ini untuk jangka panjang? Jangan sampai kondisi saat ini hanya menjadi titik puncak sebelum titik kejatuhan kembali batik nantinya. Bagaimana mempertahankan kondisi ini agar menjadi kurva naik atau paling tidak sebagai garis lurus yang berkesinambungan? Kemiripan produk ataupun desain tiruan tentu bukanlah jawabannya.
Indonesia Sudah Kalah Jauh
Jangan coba bersaing dari segi kemampuan produktivitas, kita jelas sudah kalah jauh dari China, India, dan Bangladesh untuk itu. Jangan juga coba bersaing dari segi kemampuan inovasi dan teknologi, kita jelas sudah kalah jauh dari Eropa, Amerika, bahkan Jepang, Singapura, atau Malaysia sekalipun untuk hal itu. Terlebih lagi jangan coba bersaing dari segi kemampuan meniru, karena kita jelas kalah jauh dari China dan Thailand untuk hal itu.
Tentu kita masih memiliki budaya, tapi jangan keburu senang dulu. Kita punya negara tetangga yang budayanya sangat mirip dengan kita. Melihat tingginya permintaan akan batik yang bukan saja dari luar, melainkan kini dari dalam negeri juga, sebagaimana telah diberitakan di Kompas juga, saya yakin mereka tidak akan segan - segan untuk menjemput para sesepuh pembuat batik kita untuk hijrah ke negara mereka.
Mungkin sebagian dari anda akan berargumen bahwa batik di negara kita sangatlah khas dan berbeda dengan batik di negara lain meskipun cara pembuatannya sama. Namun lupakah anda bahwa di atas tadi telah disebutkan ada beberapa negara yang memiliki kemampuan meniru tingkat tinggi disertai dengan kemampuan melakukan modifikasi dan tingkat produktivitas yang tinggi?
Kalau iPhone yang begitu hebatnya saja bisa ditiru dan bahkan tiruannya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dengan harga yang lebih rendah, siapa yang bisa menjamin bahwa batik kita tidak akan bisa ditiru dan tiruannya tidak lebih hebat?
Di sinilah dibutuhkan mental kreatif dan kemampuan untuk berkreasi tersebut. Kedua hal itu yang akan menjadi kunci untuk selalu menyediakan suguhan desain dan produk yang segar bagi perkembangan batik. Membuat batik menjadi menarik dan terus menarik adalah kuncinya untuk mempertahankan dan meningkatkan moment yang ada sekarang ini. Bisa dibayangkan, tanpa kreativitas dan inovasi, tanpa perlu waktu lama, batik kita mungkin sudah ditiru dan dipasarkan dengan lebih murah, dan nahasnya lagi, kita justru dianggap sebagai negara peniru-nya.
Practices Make Perfect
Di sinilah pentingnya bagi para produsen, industri, pengrajin, dan penjual produk batik untuk mengetahui pentingnya menumbuhkan dan meningkatkan kreativitas yang ada, disertai inovasi yang kuat. Pentingnya untuk menghentikan kegiatan tiru - meniru dan atau memirip - miripkan hasil karya mereka.
Kreativitas bukanlah sesuatu yang didapat sejak lahir, melainkan tumbuh dari sikap tidak mudah puas dan selalu menginginkan hasil yang terbaik dari setiap hal yang dilakukan. Kreativitas butuh digodok dan dilatih.
Saat masyarakat kita sudah mencintai produk batik dalam negeri, mampukah para produsen ,pelaku industri, dan penjual produk batik tersebut menjawab dan menjaga rasa cinta itu?
 | ugh mbak nita mesti baca nih, or kamu mesti ketemu sama mbak nita deh... (carmanita)... |
 | postinganny bgs bgt mbak :) knp ga dimasukin ke surat kabar aja? :) |
 | malas x ya,,malas berpikir,,malas bertindak,,malas segala2nya,,,hehehehheh,,,budaya malas,,, mungkin perlu suatu wadah komunitas batik yg anggotanya ya harus mumpuni di bidangnya,,,jadi deh batik yg nge "blink blink" ,,, hehehehh.
,,tpi,,uhhmm pasti deh UUD,,ujung ujungnya duit yang notabene kya slogan ilmu ekonomi dengan modal sekecil2nya ntuk meraih untung yg sebesar2nya.
kalo untuk negara Indonesia yang maseh menjamurnya korupsi ini,,,,gmana dunk,,, orang malas kerja kalo gak dipentung ama duit,, ,,,hehehheeh
SAVE OUR BATIK,,,, |
 | Vilia, thanks u/ cerita mengensi Inacraft. Aku belum pernah ke Inacraft, pameran ini baru2 bbrp thn terakhir ya? Aku & suami suka pakai batik disini u/ acara2 tertentu, kecuali disebutkan harus berjas & resmi :D
|
 | kemaren sabtu, aku sempetin pergi ke inacraft, and bener banget kata vilia, ruameeenya, and semua kebanyakan yang dateng kesana memakai batik yang lagi ngetrend, and tentu adja yang kebanyakan mereka incar adalah batik. Namun memang sayang model2 batiknya di tiap booth hampir sama semua, jadi kurang menarik, tapi ada juga yang berbeda tapi yah hanya beberapa. tapi memang melihat antusias masyarakat jakarta terhadap kebudayaannya besar..terlihat dengan selalu rameeenya bila ada pameran inacraft.. good dehh :) |
 | model sama, motif hampir sama .. jenis bahan juga sama.. tapi di konter yang satu bisa harga 250 rb.. conter yang satu lagi bisa 800 ribu..
**bingung** |
 | Wah analisanya bagus.. kalau boleh menambahkan.. gue rasa ada hal esensi yang musti jadi perhatian kita semua (terutama pemerintah), bahwa HARUS DIBEDAKAN antara desain dan kriya (design and craft).
Di Indonesia, kedua hal itu rancu dan siwer. Desain seperti jadi kerajinan, sementara kerajinan merasa dirinya desain. Pemerintah dalam hal ini departemen industri masih BUTA untuk membedakan dua hal tersebut.
Maksudnya bukan untuk membuat kubu atau jurang pemisah, akan tetapi justru untuk memperkuat dan meruncingkan keduanya ke sasaran (pasar) yang jitu dan tepat. Euphoria batik menjadi modern ini jelas aja disikapi banyak pihak dengan optimis dan positif. Akan tetapi efeknya bisa seperti yang mbak tulis di atas. Pameran sejenis ini jelas pameran kelas CRAFT atau kerajinan.. sementara pameran kelas fashion mungkin seperti yang pernah dilakukan di event sebelumnya yang menghadirkan band RAN sebagai band pembuka dan mereka tampil dengan mengenakan batik saat performance nya.. Disitu batik jadi keren sekali.
Nah.. semoga kejadian batik ini menjadi awal kesadaran banyak pihak, bahwa antara kriya dan desain musti sama-sama dimajukan, dengan demikian keduanya menjadi mesiu industri bangsa ini. Bukan saling mematikan apalagi menjatuhkan. |
 | pas gue mampir k Inacraft kemarin ini juga pusing. Pusing krn banyak orang hehehe.. tapi ya itu, gue liat d ITC juga skrg banjir batik, gara2x di luar sana, desainer2x luar pd mengangkat batik. gue yang emank suka banget sama batik sih seneng2x aj, tapi ya setelah dilihat2x dr model etc, jd males bgt.. soalnya sama semua. nggak ada karakter. gue emoh beli-nya, jadi lebih baik gue beli kain untuk gue bikin model sendiri. ya ini sebagian emang berkaitan dengan ego gue sih yang nggak suka pasaran hahahah.. oh well... anyway fenomena batik membanjiri ITC n butik2x ini lucu aja, produk dalam negeri baru dihargai masyarakat setelah diangkat di luar negeri. selama ini kemana aja sih? =P |
 | setuju...dengan artikel ini.... semoga kedepan tambah kreativ ya... |
 | nice one, vil, gw baca sampe abis (wakakakak, ketauan pemalas, selama ini jarang baca yg bener).. btw, ngggg... will you create a stylish batik someday? xixixixi.. *ngeracunin vilia :-) |
 | malas x ya,,malas berpikir,,malas bertindak,,malas segala2nya,,,hehehehheh,,,budaya malas,,, mungkin perlu suatu wadah komunitas batik yg anggotanya ya harus mumpuni di bidangnya,,,jadi deh batik yg nge "blink blink" ,,, hehehehh.
,,tpi,,uhhmm pasti deh UUD,,ujung ujungnya duit yang notabene kya slogan ilmu ekonomi dengan modal sekecil2nya ntuk meraih untung yg sebesar2nya.
kalo untuk negara Indonesia yang maseh menjamurnya korupsi ini,,,,gmana dunk,,, orang malas kerja kalo gak dipentung ama duit,, ,,,hehehheeh
SAVE OUR BATIK,,,,  :) Moga2 Fasity.Com nanti bisa jadi wadah yang seperti itu ya Lis. Harapannya sih moga2 bisa jadi komunitas yg lebih berguna yang mumpuni di bidang fashion. :) Hehehehe....
Yah berharap aja masih banyak orang yang berpegang pada nurani, idealisme, dan nasionalisme. Sambil berusaha melakukan sesuatu semampu kita untuk menghasilkan yg terbaik bagi karya anak bangsa ini. Aku yakin banyak yang perduli dengan batik kita juga, di luar apakah itu kepentingan atau bukan kepentingan orang - orang tersebut. :) |
 | Wah analisanya bagus.. kalau boleh menambahkan.. gue rasa ada hal esensi yang musti jadi perhatian kita semua (terutama pemerintah), bahwa HARUS DIBEDAKAN antara desain dan kriya (design and craft).
Di Indonesia, kedua hal itu rancu dan siwer. Desain seperti jadi kerajinan, sementara kerajinan merasa dirinya desain. Pemerintah dalam hal ini departemen industri masih BUTA untuk membedakan dua hal tersebut.
Maksudnya bukan untuk membuat kubu atau jurang pemisah, akan tetapi justru untuk memperkuat dan meruncingkan keduanya ke sasaran (pasar) yang jitu dan tepat. Euphoria batik menjadi modern ini jelas aja disikapi banyak pihak dengan optimis dan positif. Akan tetapi efeknya bisa seperti yang mbak tulis di atas. Pameran sejenis ini jelas pameran kelas CRAFT atau kerajinan.. sementara pameran kelas fashion mungkin seperti yang pernah dilakukan di event sebelumnya yang menghadirkan band RAN sebagai band pembuka dan mereka tampil dengan mengenakan batik saat performance nya.. Disitu batik jadi keren sekali.
Nah.. semoga kejadian batik ini menjadi awal kesadaran banyak pihak, bahwa antara kriya dan desain musti sama-sama dimajukan, dengan demikian keduanya menjadi mesiu industri bangsa ini. Bukan saling mematikan apalagi menjatuhkan.  Thx untuk infonya. :) Memang harus diperhatikan supaya penyuluhan yang diberikan bisa saling mengisi ya. Tapi untuk acara Inacraft memang untuk kerajinan atau craft. Jadi bukan hanya batik saja. Dan sekarang ini antara kerajinan dan desain memang sudah saling membutuhkan.
Kalau untuk pameran fashion sih memang yg kemarin memang bukan ditujukan untuk ajang pameran fashion, di mana batik diolah dengan super dan dibuat seperti seni. Pada Inacraft kemarin, batik pure diposisikan sebagai sebuah kerajinan yang dapat digunakan sebagai produk fashion. Jadi cukup banyak penjual produk pakaian batik baik dari pengrajin maupun dari penjual tertentu.
Setuju denganmu, semoga ke depannya batik bisa menjadi semakin berkembang, dan baik dari segi desain maupun kerajinan bisa sama - sama ditingkatkan. |
 | pas gue mampir k Inacraft kemarin ini juga pusing. Pusing krn banyak orang hehehe.. tapi ya itu, gue liat d ITC juga skrg banjir batik, gara2x di luar sana, desainer2x luar pd mengangkat batik. gue yang emank suka banget sama batik sih seneng2x aj, tapi ya setelah dilihat2x dr model etc, jd males bgt.. soalnya sama semua. nggak ada karakter. gue emoh beli-nya, jadi lebih baik gue beli kain untuk gue bikin model sendiri. ya ini sebagian emang berkaitan dengan ego gue sih yang nggak suka pasaran hahahah.. oh well... anyway fenomena batik membanjiri ITC n butik2x ini lucu aja, produk dalam negeri baru dihargai masyarakat setelah diangkat di luar negeri. selama ini kemana aja sih? =P  Gue sama kayak elo, Marge. :) Prefer beli kainnya dan jahit sendiri. Karena bisa bikin model yg enggak pasaran dan lebih fun.
:) Hehehe... bukannya itu memang sifat dan sikap sebagian besar orang Indonesia? Di dunia fashion negara ini pun, kita seringkali mengamini dengan penuh totalitas bahwa kiblat fashion selalu berada di negara - negara luar. :) Yah bukan berarti bahwa itu tidak benar, melainkan hanya sekedar mengingatkan bahwa bumi itu bulat. ;) Hehehehe.... |
 | nice one, vil, gw baca sampe abis (wakakakak, ketauan pemalas, selama ini jarang baca yg bener).. btw, ngggg... will you create a stylish batik someday? xixixixi.. *ngeracunin vilia :-)  Hahaha.... :) Biasanya speed reading ya Mon. ;) Hehe pertanyaan yg bagus. Menciptakan motif batiknya sendiri terus terang gue belum yakin bisa. Batik erat dengan filosofi, kultur, kekuatan karakter, dan sejarah. Jadi untuk menciptakan batik yg betul2 sempurna itu sulit sekali.
Tapi kalau menciptakan produk yg stylish dan kreatif dengan batik, sudah dan masih akan terus dilakukan. :) Prosuk tas batik sudah dipasarkan dan jauh sebelum produk pakaian batik mulai digemari, gue udah kepikiran untuk bikin dress2 dan baju2 batik, tapi waktu belum mengijinkan hehehe. Mungkin baru akan terealisasi sekarang ini. :) |
 | iya sih, ngerti banget kalau fashion itu masih berkiblat k Paris/London/New York/Milan tapi ya sayang aja kenapa yang udah ada di depan mata selama ini dan bisa diolah banget kok kurang gaungnya, harus 'nunggu' tetangga make dulu baru kita pake. Makanya gue salut banget sama desainer2x kayak Edo Hutabarat, Carmanita, Baron, Obin, dll yg konsisten mengangkat budaya dalam negeri (and make them look sooo gorgeous!).
Kapan ya gue bisa mampu beli dress-nya Edo atau kainnya Baron? huhuhuw... ;P  :) Ya sebetulnya balik2nya ke harkat dan martabat bangsa ini. Kalau bangsa ini punya harga diri yang cukup tinggi seperti orang - orang Perancis yang menolak berbahasa Inggris, atau seperti orang - orang Jepang yang lebih percaya dengan teknologinya sendiri sekaligus mempertahankan kepercayaan shinto-nya, mungkin kita tidak akan berjalan menunduk malu saat mengenakan batik, tidak manggut - manggut tersenyum saat disodori lembaran uang dibalik janji, dan tidak perlu berkiblat pada negara manapun untuk sesuatu yang sudah dimiliki sejak kita lahir. :)
Tapi ya itu hanya andai2 saja, Marge. Hehehehe... kenyataannya bangsa ini masih jauh dari memiliki harga dan martabat diri yang tinggi. :P
Btw, sebetulnya pertanyaan elo itu jawaban atas ketidakpopuleran batik di negara ini. :) Karena batik terlalu sering dikondisikan, sebagai kendaraan politik, sebagai bagian dari para member eksklusif, sebagai komoditas untuk orang - orang berduit, dll. Jadi masyarakat biasa atau rakyat jelata, ya cukup menikmati batik yg biasa2 aja. Yang bagus hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat. :) |
 | Kaget juga kemaren ini pas liat2 majalah, rupanya yg lagi ngetrend untuk sekarang adalah Ikat dan Batik. Ikat juga ditulis 'Ikat' gitu. Tapi kok gak ada bilang produksi/design Indonesia :D |
 | mbak viliaciputra menulis: Apabila selama ini batik kurang diminati dan kurang dihargai di negeri sendiri, dan diperlukan banyak usaha dari semua pihak untuk menaikkan derajat batik, maka sekarang ini adalah saatnya di mana batik sedang betul - betul berada di atas angin. Semua orang menginginkan batik. Tidak perlu lah memperdulikan apakah mereka benar - benar mencintainya atau tidak. Yang pasti semua orang menginginkannya.
*mbak, kalo orang kita tdk peduli apakah org Indonesia benar2 mencintai batik atau ngga, batik itu akan hilang seperti trend2 yg lainnya. harusnya batik ngga menjadi trend, tp jadi sesuatu yg melekat erat d tubuh org Indonesia. Saya taruhan nih ya, trend batik ini ga akan bertahan lebih dr 2 tahun deh, dgn keadaan yg mbak jelaskan ini.
|
 | :) Maksud tulisan saya itu adalah, untuk skrg ini saat batik sedang jadi trend, coba gunakan moment ini dengan sebaik2 nya. Tidak perlu meributkan apakah yg membeli itu betul2 mencintai batik atau tidak dulu. Tapi pergunakan dulu momentnya agar orang2 yg baru menyukai karena trend itu ikut membeli, menyumbangkan pemasukan bagi pengrajin batik, sehingga sebagai balasannya pengrajin batik dan para desainer batik juga bisa membuat yg lebih bagus lagi, sehingga perlahan - lahan yg suka itu menjadi betul - betul mencintai.
Kita tahu proses mencintai itu butuh waktu, butuh pemahaman, butuh nalar, butuh rasa keterikatan dan kepemilikan. :) Bukan sesuatu yg bisa dilakukan dan dicapai dalam seketika saja. Dan kalau belum apa - apa, orang2 yg mulai menyukai batik sudah ditodong dengan pertanyaan: "Loe bener2 mencintai batik apa ga? Kalo ga suka ga usah pake deh, ga menghargai loe.." Ya jelas kabur semua. :)
Yang sering terjadi kan begitu, para pecinta batik sendiri mengeksklusifkan batik itu sendiri sebagai sesuatu yg high class, yg nasionalisme, yg begini begitu, hingga bagi orang biasa untuk mengenakan batik saja kok serasa berat perlu gini gono nya. :) Itu yang harus dihilangkan. Jangan membuat orang - orang yang ingin menyukai batik terhenti langkahnya.
Batik memang karya anak bangsa yang harus dihargai dan dilestarikan. Itu betul. Tapi yang terutama dari batik bukan hanya karean itu sekedar budaya bangsa, melainkan karena juga ada banyak manusia dan kehidupan yang berjalan dan bergantung pada batik itu sendiri. Percuma saja kalau batik dihargai dan dianggap tinggi atau dicintai hanya oleh segelintir orang saja. Jauh lebih berguna apabila batik digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia meski hanya segelintir yg memahami dan mencintai, Bukan begitu? :)
Memang, kalau keadaannya dibiarkan seperti ini, batik hanya akan jadi trend yg segera berlalu. Karenanya diperlukan kerjasama banyak pihak untuk mempertahankannya. Kalau dulu pemerintah dan orang2 yg berkepentingan ribut2 agar masyarakat mendintai produk dalam negeri dan membelinya, sekarang dari pembeli sudah ada jawaban. Masalahnya, bagaimana dari segi pemroduksinya? Apa yg bisa ditawarkan bagi para pembeli yang sudah menjawab tersebut agar tetap bertahan? |
| |