Blog EntryTentang daya saing (sebagian) orang IndonesiaMay 8, '08 2:25 PM
for everyone
Barusan baca postingannya Mas Tomi tentang daya saing (sebagian) orang Indonesia. Masalahnya utamanya tentang mentalitas bangsa ini sendiri yang menginginkan hanya segala sesuatu yang mudah. Hanya sedikit yg mau benar - benar mempelajari secara mendalam mengenai segala sesuatu yg dilakukannya. Rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajarnya sangatlah kurang. Kebanyakan yang ada justru dengan sukarela dan penuh sukacita mengakui dan menjadikan bangsa dan negara lain sebagai kiblatnya sekaligus menerima dan mengadaptasi segala sesuatunya apa adanya. Jangankan berusaha melampauinya, berpikir untuk mempelajarinya saja tidak.

Masalahnya lagi, mentalitas merupakan hal yang paling sulit diubah menurut saya. Pertama karena berhadapan dengan diri sendiri. Kita tahu musuh terbesar adalah diri sendiri, dan disiplin tinggi, kejujuran diri, keterbukaan pikiran, serta pemahaman yang jelas akan akar masalah, sangat dibutuhkan untuk bisa merubah mental kita sendiri.

Kedua karena mentalitas itu sudah terbentuk dan terpupuk sejak usia dini. Yang artinya sudah terbentuk garis besarnya dari pola ajar orang tua, bukan pendidikan umum. Kenapa begitu? Karena saya melihat banyak orang yang meskipun sudah sekolah tinggi atau bahkan ke luar negeri dll pun, mentalnya tetap saja tidak berubah. Cara berpikir tetap kolot, tetap percaya pada hal - hal dan dogma yang tidak pernah dibuktikan sendiri, dan tetap tidak memiliki sikap dan daya juang yang tinggi, dll.

Tidak berarti mentalitas yang dimiliki tidak bisa diubah, seperti yang dijadikan alasan pertama yaitu bisa diubah dengan disiplin yg tinggi, kejujuran diri, keterbukaan pikiran, dan pemahaman akan akar permasalahan yg jelas. Namun juga akan sangat baik apabila mental yg baik dididik sejak dini, dan di sini dibutuhkan pola pengajaran yang baik untuk pertumbuhan mental anak - anak di generasi mendatang.

Berbicara tentang mentalitas memang tidak ada habisnya.
Yang diperlukan memang memulai untuk melakukan perubahan itu.

16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
tuhunugraha wrote on May 8
hmmm jangan-jangan gw masuk dalam kategori orang yang tidak punya daya saing... Harus lebih semangat nich tampaknya belajar dan bertualang dengan hal hal baru...
bookshop wrote on May 8
Thanks Vilia, that's very interesting. Yg kata gue mengerikan, karena faknor no. 2, org suka gak sadar kalo perlu ada perubahan. Gimana mo berubah kalo sadar pun tidak?

Tapi gue rasa pelan2 sudah berubah, walaupun masih minoritas :D
fsafrina wrote on May 8, edited on May 8
hmmmm.... interesting Villia... rasanya kena banget ke saya saat ini.... soalnya baru dapet email dari atase perdagangan di Jepang utk mengirimkan profil saya dan produknya.. karena dianggap potential utk pasar jepang... saya kok agak keder! hahaha... tp saya tahu.. saya sdg "tumbuh" as a person, dan setiap pertumbuhan, membawa konsekuensi "perubahan"... Thanks for ur writing sis!.. Hug, Rina
aranolein wrote on May 8, edited on May 8
Betul banget. Godaan untuk berubah itu yang terbesar datang dari diri sendiri. Padahal kesempatan tidak datang dua kali. Aku termasuk orang yang percaya kesempatan hanya datang bagi yang sudah siap, tapi karena tidak percaya diri jadi merasa tidak siap. :)

Mudah-mudahan saya bisa merubah sikap, dan postingan Vilia membuka mata saya :D
viliaciputra wrote on May 8
hmmm jangan-jangan gw masuk dalam kategori orang yang tidak punya daya saing... Harus lebih semangat nich tampaknya belajar dan bertualang dengan hal hal baru...
Berpikir positif, bertindak optimis. :)
Selamat belajar hal baru, Tuhu...
viliaciputra wrote on May 8
Thanks Vilia, that's very interesting. Yg kata gue mengerikan, karena faknor no. 2, org suka gak sadar kalo perlu ada perubahan. Gimana mo berubah kalo sadar pun tidak?

Tapi gue rasa pelan2 sudah berubah, walaupun masih minoritas :D
Iya, untuk mencapai kesadaran itu sendiri memang susah sih, dibutuhkan kemampuan untuk menganalisa diri dan keterbukaan pemikiran ya. Tapi gue rasa manusia gimanapun pada satu titik akan bertemu dengan persimpangan di mana dia harus memilih untuk sebuah perubahan.

Jadi ya diutamakan oleh yg sudah sadar duluan, supaya diikuti oleh yg sadar belakangan. :D Hehehe...perlahan tapi pasti lah intinya.
viliaciputra wrote on May 8
hmmmm.... interesting Villia... rasanya kena banget ke saya saat ini.... soalnya baru dapet email dari atase perdagangan di Jepang utk mengirimkan profil saya dan produknya.. karena dianggap potential utk pasar jepang... saya kok agak keder! hahaha... tp saya tahu.. saya sdg "tumbuh" as a person, dan setiap pertumbuhan, membawa konsekuensi "perubahan"... Thanks for ur writing sis!.. Hug, Rina
Selamat untuk tawarannya ya Rin :). Jangan keder donk hehehe, kamu pasti bisa. :) Semangat aja. Pelajari tentang pasar Jepang dan seleranya aja yg pasti. So far Jepang paling ketat di kualitas, dia mau semua sistematis dan sempurna tanpa ada cacat sedikitpun. Baik dari materi, desain ataupun warna. Hehehe..itu yg pengalamanku sih.

Yup pertumbuhan pasti membutuhkan perubahan. Apa yg membawa kita sampai di sini ga akan membawa kita lebih tinggi dari ini. :) Semangat ya Rinn!
viliaciputra wrote on May 8
Aku termasuk orang yang percaya kesempatan hanya datang bagi yang sudah siap, tapi karena tidak percaya diri jadi merasa tidak siap. :)
:) Mungkin kesempatannya sebetulnya ada, tapi tidak terlihat karena memang mata dan kemampuan kita belum sampai untuk melihat itu sebagai kesempatan. Gitu mungkin ya...:) Selama ini aku lebih fokus ke mencari kesempatan dibanding menunggunya datang sih, jadi mungkin ga terlalu merasakan perubahan drastis, karena aku yg menginginkannya.

Moga2 kita bisa sama2 merubah sikap ya.. hehe saya juga masih harus banyak belajar. :)
poystories wrote on May 8
di sini masih tinggi kecenderungan nyari kurangnya orang lain, bukannya malah termotivasi untuk lebih dari orang itu dengan cara berusaha dan belajar lebih banyak. gw sendiri cukup bersyukur karena masih punya semangat utk belajar terus. tidak untuk disombongkan, tapi harusnya orang2 sadar itu sih...
viliaciputra wrote on May 8
di sini masih tinggi kecenderungan nyari kurangnya orang lain, bukannya malah termotivasi untuk lebih dari orang itu dengan cara berusaha dan belajar lebih banyak. gw sendiri cukup bersyukur karena masih punya semangat utk belajar terus. tidak untuk disombongkan, tapi harusnya orang2 sadar itu sih...
:) Setuju Poy. Harus selalu berusaha melampaui dan bukan menjatuhkan.
elbintang wrote on May 9
tulisan yang menggugah *again* :-)
--------------------------------------------------
ada juga yang sadar kalau kwalitas skillnya kurang tapi tidak termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri. konsep "terima gue apa adanya" yang salah penempatan :p
gimana nggak dilibas sama yang lain
viliaciputra wrote on May 9
tulisan yang menggugah *again* :-)
--------------------------------------------------
ada juga yang sadar kalau kwalitas skillnya kurang tapi tidak termotivasi untuk belajar dan mengembangkan diri. konsep "terima gue apa adanya" yang salah penempatan :p
gimana nggak dilibas sama yang lain
Thank you sist..:) Sekedar berbagi pemikiran alias curhat.

Bener banget tuh sis. Kadang suka kepikiran, sebetulnya konsep terima apa adanya tuh malah menjatuhkan. Bukankah manusia itu harus selalu belajar dan berkembang? Bukannya untuk maju justru tidak boleh menerima apa adanya? Dan bukannya di agama pun diajarin kalau pasrah itu bukan berarti menyerah, melainkan berserah apapun hasilnya namun tetap berjuang sekuat tenaga tanpa mengeluh?

Kalau apa adanya itu cukup, untuk apa ada juara satu, dua, dan tiga? Untuk apa ada yg terbaik? Menurut aku ukuran terbaik itu tetap perlu, supaya yang kurang baik tetap termotivasi untuk menjadi lebih baik. Masalah jadi juara keberapa, tidak apa. Selama sudah diusahakan dengan sungguh - sungguh, apapun hasilnya kita terima apa adanya, itu baru betul. Tapi kalau usahanya apa adanya, ya hasilnya ala kadarnya doank. :P

Apa adanya tidak sama dengan ala kadarnya.
lisapurwanti wrote on May 21
beragamnya manusia,,beragamnya budaya diri
viliaciputra wrote on May 21
beragamnya manusia,,beragamnya budaya diri
Betul sekali. :)
tottilicious79 wrote on Jul 11
Kita tahu musuh terbesar adalah diri sendiri

Setujuu bangets neehh :D
viliaciputra wrote on Jul 14
Kita tahu musuh terbesar adalah diri sendiri

Setujuu bangets neehh :D
:)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help