Blog EntryMembiasakan Diri Dengan Pengendalian DiriDec 10, '06 3:08 AM
for everyone
Saya yakin, tidak ada kesuksesan yang didapat tanpa usaha, kerja keras, dan disiplin diri yang tinggi.
Dan tidak ada kesuksesan yang bertahan lama tanpa dedikasi, profesionalisme dan integritas yang tinggi.
Tapi percaya atau tidak percaya, penentu akhir dari semua kesuksesan ataupun setiap keputusan yang akan menghasilkan kesuksesan tersebut, bukanlah semua hal di atas.
Penentu akhir dari kesuksesan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri.
Terdengar sederhana, terkesan mudah, tapi coba lakukan dengan refleks penuh, maka saya yakin kita semua sependapat, mengendalikan diri adalah hal tersulit.

Mengendalikan diri termasuk mengendalikan ego, mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan emosi, mengendalikan rasa iri, mengendalikan kemalasan, mengendalikan rasio, dan banyak lagi lainnya.
Mengendalikan diri juga termasuk tidak memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak membeli sesuatu hanya karena kesenangan dan keinginan semata, tidak mengeluh dan marah - marah tak jelas saat segalanya berjalan buruk, tidak takut salah dan kalah, tidak mengundur - undur segala hal yang harus diselesaikan sekarang, tidak terlambat saat janji, tidak moody, dan lainnya.
Belum disebut semua saja, saya sudah menahan nafas karena rasanya di kepala saya terdengar suara.."itu semua kekurangan yg disebutin...., gue banget..." :)

Mengendalikan diri saya katakan sebagai hal tersulit, karena lawan yang dihadapi adalah diri sendiri.
Apakah kita akan mampu mengalahkan semua ego dan sifat buruk yang mendegradasi kemampuan kita, atau justru terbawa arus yang akhirnya akan menghancurkan semua sikap positif yang telah di bangun bertahun - tahun.

Sebagaimana kita ketahui, memandang gajah di seberang sangatlah mudah, tapi memandang semut di pelupuk mata sangatlah sulit. Maka begitu juga yang terjadi, saat memandang dan mencari kesalahan orang lain adalah mudah, tapi melihat kesalahan dan kekurangan diri sendiri adalah sulit.
Tanpa pengenalan kemampuan serta kekurangan diri yang benar, saya yakin kita tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri.

Biasanya pengendalian diri yang tersulit justru saat posisi kita sedang nyaman.
Segalanya ada di tangan, dan semuanya hampir tercapai. Ibaratnya tinggal satu sentuhan terakhir.
Mengapa? Karena cenderungnya saat segalanya berada dalam kendali kita, maka kita merasa berkuasa dan merasa semua yang kita putuskan akan menjadi benar.
Dan ibaratnya sedang bermain Uno Sticko (betul tidak ya tulisannya?), satu langkah salah, maka semua susunan akan rubuh tak bersisa.
Tanpa pengendalian diri yang kuat, tidak akan ada keputusan akhir yang bijaksana, taktis, dan sukses.
Mungkin untuk lebih pastinya, tanpa membiasakan diri dengan pengendalian diri yang kuat, tidak akan ada refleks untuk membuat keputusan dan bertindak penuh kebijaksanaan, taktis, dan sukses.

Mengapa saya menggunakan kata 'membiasakan diri' sebelum 'pengendalian diri'?
Karena sangat perlu untuk membiasakan diri untuk menciptakan refleks tersebut pada saat - saat yang menentukan. Sebagaimana kita ketahui, 90% saat yang menentukan, datang tiba - tiba dan tanpa aba - aba.
Hanya satu kali, dan setelah itu berlalu, maka lewat dan selesailah sudah. Kita sukses atau gagal.
Kita semua juga tahu, tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi. Maka jauh lebih penting untuk mempersiapkan apa yang belum dan akan terjadi. Itulah di mana fungsi membiasakan untuk menciptakan refleks itu diperlukan.

Pengendalian diri tanpa membiasakan diri adalah sama seperti orang sakit flu yang pantang makan ice cream. Begitu sakitnya hilang, ia lupa, dan makan ice cream lagi banyak - banyak.
Kesalahan yang sama memiliki tingkat persentase yang lebih tinggi untuk terulang kembali. Begitu juga dengan ketidaksuksesan dan kegagalan.
Sedangkan orang yang terbiasa mengendalikan diri adalah orang yang mengetahui takaran secara refleks kapan, di mana, dan seberapa banyak ice cream yang bolek ia nikmati. (Ia nikmati, bukan ia makan)
Kesalahan dan ketidaksuksesan memiliki persentase yang sangat kecil hingga tidak mungkin, untuk bisa terulang lagi.

Dan satu yang pasti, percaya atau tidak percaya, dengan membiasakan untuk mengendalikan diri, maka kita telah mengerjakan separuh dari usaha, kerja keras, disiplin diri, dedikasi, profesionalisme, dan integritas diri yang diperlukan untuk mencapai sebuah kesuksesan.
Tentu saja kesuksesan yang saya maksud adalah sukses dalam segala bidang termasuk usaha dan pekerjaan, hubungan antar manusia, dan yang paling berarti, yaitu: hidup.

Article for Simplight's Blog - Business Section.
What we thought and believe. (By Vilia)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"Orang yang tahu takkan lebih baik dari orang yang mengerti.
Orang yang mengerti takkan lebih baik dari orang menghayati.
Orang yang menghayati takkan lebih baik dari orang yang terbiasa.
Bisa karena terbiasa.
Dan terbiasa karena bisa."

"Dengan terbiasa untuk mengendalikan diri, kamu ibarat seseorang yang terbiasa mengendarai kendaraan.
Hanya perlu memikirkan hendak pergi ke mana, bukan sibuk memikirkan bagaimana cara mengendarai kendaraan yang kamu naiki."


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
srisariningdiyah wrote on Dec 9, '06
perlu jam terbang tinggi dalam mengendalikan diri, dimulai dengan hal2 kecil yang sesungguhnya adalah hal besar yang menentukan hidup kita, untuk merasakan sukses yang orang lain hanya bisa melihat dari luar namun bagi yang merasakan sungguh merupakan perjuangan yang luar biasa... :D
viliaciputra wrote on Dec 9, '06
perlu jam terbang tinggi dalam mengendalikan diri, dimulai dengan hal2 kecil yang sesungguhnya adalah hal besar yang menentukan hidup kita, untuk merasakan sukses yang orang lain hanya bisa melihat dari luar namun bagi yang merasakan sungguh merupakan perjuangan yang luar biasa... :D
Yup, bener banget sis.
Dimulai dari hal - hal kecil, untuk mempersiapkan hal - hal besar.
dartz wrote on Dec 9, '06
its always how to fight my own bad mood...
planning. tons of them, execution, yes i know how, but mood...pfffhhh....
viliaciputra wrote on Dec 10, '06
dartz said
its always how to fight my own bad mood...
planning. tons of them, execution, yes i know how, but mood...pfffhhh....
Hohoho....masalah terbesarku sama dengan masalahmu Wid.
Moody...fuh fuh...
dartz wrote on Dec 10, '06
owhwhh... mooodd... :D
jenniesbev wrote on Dec 10, '06
Excellent article, Vilia. Thanks for sharing it with us.
viliaciputra wrote on Dec 10, '06
dartz said
owhwhh... mooodd... :D
:) Sekarang sedang berusaha mengatur mood nih. Hehe...
viliaciputra wrote on Dec 10, '06
Excellent article, Vilia. Thanks for sharing it with us.
Thank you for your compliment, Jen.
ernichka77 wrote on Dec 10, '06
Wah Mbak Lia, ini postingan ketiga dari kontak2 saya yg isinya pas banget dengan kondisi batin saya saat ini, dua yg lainnya adalah postingannya Sefa dan Fanny tentang anger management.
Saya lagi marah besar dan sakit hati sama seseorang dan ego saya bikin saya rasanya pengen 'mites' ini orang yg kata2 dan tingkahnya udah keterlaluan. Tapi postingan Mbak Lia, Sefa dan Fanny bikin saya semakin sadar bahwa gak ada gunanya marah2, cuma buang2 energi dan kalo saya meladeni tingkah orang itu, sia2 lah perjuangan dan kerja keras saya selama ini.
viliaciputra wrote on Dec 10, '06
Wah Mbak Lia, ini postingan ketiga dari kontak2 saya yg isinya pas banget dengan kondisi batin saya saat ini, dua yg lainnya adalah postingannya Sefa dan Fanny tentang anger management.
Saya lagi marah besar dan sakit hati sama seseorang dan ego saya bikin saya rasanya pengen 'mites' ini orang yg kata2 dan tingkahnya udah keterlaluan. Tapi postingan Mbak Lia, Sefa dan Fanny bikin saya semakin sadar bahwa gak ada gunanya marah2, cuma buang2 energi dan kalo saya meladeni tingkah orang itu, sia2 lah perjuangan dan kerja keras saya selama ini.
Mbak Erna, mengatasi rasa marah memang sungguh sulit. Saya sendiri sering kesulitan untuk mengatasi rasa kesal dan marah, apalagi gondok. :) Dan saya pribadi termasuk orang yang tidak setuju untuk memendam amarah. Menurut saya, rasa marah perlu dan harus dikeluarkan. Karena dalam rasa marah itu ada ketidaknyamanan dan kekecewaan akan sesuatu yang tidak baik atau tidak betul diri kita.

Apabila rasa marah itu hanya dipendam, mungkin memang tidak akan terjadi peperangan dalam arti nyata, yaitu kita tidak memiliki konflik dengan orang lain. Tapi efek negatif yang dihasilkan pada diri kita sendiri jadi lebih buruk. Kita jadi sensitif, emosian, tidak bisa menilai secara objektif, dan yang pasti energi itu habis tak bersisa untuk hal yang sebetulnya bisa diselesaikan. Oleh karenanya amarah itu sendiri harus dibebaskan. Demi kebaikan diri sendiri dan kebaikan bersama.

Sejak dulu saya sering diberitahu bahwa memaafkan adalah hal yang paling mudah untuk melepaskan amarah. Tapi masalahnya memaafkan itu hanya bisa terjadi saat kejadian yang sama tidak terulang lagi. Misalnya orang itu tidak lagi menyebalkan dan lainnya. Maka tentu memaafkan bisa dilakukan. Tapi masalahnya apabila orang tersebut masih terus menerus melakukan sesuatu yang mengganggu kita, rasanya memaafkan bukanlah sikap yang tepat. Pertama, karena mungkin orang tersebut tidak tahu bahwa sikapnya mengganggu kita. Kedua, andaikan dia sudah tahu dan dia masih melakukan hal yang sama, tentu di sini ada masalah yang harus diluruskan. Mungkin ada konflik yang lebih dalam dari apa yang terlihat.

Maka saya pribadi berpendapat bahwa amarah itu harus dikeluarkan. Tetapi sebelum dikeluarkan, kita harus mengetahui terlebih dahulu bentuk rasa marah itu yang sesungguhnya. Biasanya rasa marah itu hanya disebabkan oleh dua hal. Satu adalah ketidakpuasan atau kekecewaan akan sikap seseorang yang kita pikir bisa menjadi lebih baik lagi. Dua adalah sakit hati dan ketidak mampuan untuk membela diri.

Dalam dua jenis marah itu ada satu perbedaan, yaitu apakah rasa marah tersebut juga berguna untuk orang tersebut atau hanya berguna untuk diri kita sendiri. Apabila rasa marah itu akan ada gunanya untuk orang tersebut, misalnya sikapnya sudah menyebalkan untuk banyak orang, maka sangat perlu bagi kita untuk membicarakan dua mata mengenai sikapnya itu. Ada perubahan yang bisa dilakukan, dan itu tidak boleh dilewatkan. Kita juga bisa menyampaikan rasa marah kita dengan mengatakan secara terbuka bahwa kita kecewa dengan sikapnya. Tapi jangan lupa berikan solusi, seperti apa sikap yang seharusnya, dan bagaimana yang baik dan nyaman bagi kepentingan bersama. Karena rasa marah tanpa penjelasan dan solusi yang benar hanya akan menyebabkan permasalahan yang lebih pelik.

Apabila rasa marah itu karena sakit hati dan ketidakmampuan untuk membela diri, saya pikir kita perlu mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Pertama yang harus dianalisa adalah, apakah yang dikatakan atau dilakukan, dan membuat kita sakit hati dan tidak bisa membela diri adalah benar? Misalnya dia mengatakan kita tidak memiliki kemampuan, maka kita perlu menelaah terlebih dahulu apakah benar kita tidak berkemampuan. Dan setelah mendapatkan jawaban yg sebenarnya, barulah kita bisa mengambil sikap. Apabila yang dikatakannya adalah benar, maka sesakit dan semenyebalkan apapun itu, saya rasa sikap yang paling baik adalah diam dan perbaiki. Dengan perbaikan yang ada, kita akan bisa menunjukkan bahwa kita adalah sosok yg lebih baik dan tidak seperti apa yang dikatakannya.

Dan apabila yang dikatakannya adalah tidak benar, maka saya pikir sikap yang paling baik adalah berbicara secara terbuka dengannya, dan meminta dia untuk menunjukkan bagian mana yang tidak benar menurutnya. Dengan begitu kita memiliki kesempatan terbuka untuk menjelaskan duduk permasalahannya dan bagaimana sikap yang kita ambil. Setelah semuanya jelas, adalah pilihan dia untuk tetap bersikap menyebalkan dan lainnya, dan adalah pilihan kita untuk tidak menganggap apa yang dipermasalahkan dan dilakukannya sebagai apa yang tidak penting.

Di sini saya tidak tahu duduk permasalahannya bagaimana antara mbak erna dengan seseorang itu, tapi satu yang saya yakin, rasa marah tidak pernah tidak berguna. Karena tidak akan ada rasa marah apabila kita tahu itu tidak berguna, melainkan kita hanya akan tidak memperdulikannya. Dan meladeni rasa marah tidak pernah tidak berguna. Yang tidak berguna adalah apabila dalam mengatasi amarah itu, dilakukan dengan cara dan intepretasi yang salah.

Saya rasa, perjuangan dan kerja keras mbak erna justru akan sia - sia kalau mbak erna tidak bisa merasa nyaman dengan apa yang mbak usahakan, termasuk adanya konflik yang memakan energi tersebut. Sebagaimana kita ketahui, konflik terkadang bisa menjadi sebuah jalan menuju perdamaian. :)

Pengendalian diri bukan berarti tidak marah atau tidak kesal, melainkan bisa menentukan dan mengendalikan rasa marah dan rasa kesal, terlebih lagi menyelesaikan keduanya. Ada perbedaan yang besar antara berusaha untuk tidak meladeni dan mengerti mengapa tidak harus meladeni, sebagaimana ada perbedaan yang besar antara melepaskan rasa amarah dengan marah. :)

Semoga pendapat saya bisa berguna ya mbak. Mohon maaf kalau ada salah kata atau makna, saya juga tidak berusaha untuk menggurui terlebih lagi menghakimi. Karena saya tidak tahu duduk permasalahannya dan seperti apa cara maupun upaya penyelesaian yang sudah dijalankan. Semuanya hanya berdasarkan pendapat dan pengalaman saya pribadi. :) Sekali lagi, semoga berguna.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help