Selalu ada orang - orang yang akan menggunakan kebaikan hati loe untuk kepentingan dan keuntungan mereka semata. Mulai dari basa - basi, sampai yg ga tau malu atau bahkan ga tau etika dan terima kasih. Itu sudah biasa. Suka atau tidak suka, spesies seperti itu selalu ada di mana - mana.

Seperti yang temen gue ceritain barusan dengan kesalnya, "Gila gak Vil, jelas - jelas dia tau itu kotak makan gue (Red: usaha yang menghidupi dia atau mata pencaharian dia), eh masa dia malah nanya dengan minta gratis begitu aja?" dan seorang lagi beberapa waktu yg lalu, "Gue pikir dia temen baik gue, dia nanya gue dapet supplier dari mana, jadi gue kasih tau. Eh bukannya terima kasih, dia malah langsung ngehubungin suplier itu dan nyerobot business gue. Gila kebayang ga sih berapa kecewanya gue? Bukan masalah duitnya, tapi masalah kepercayaan itu lho?"

Well, hal - hal sejenis juga pasti sering terdengar. Meski berbeda versi, sama intinya. Merasa kebaikan hatinya dipergunakan oleh orang lain demi kepentingan atau keuntungan orang - orang itu sendiri. Gue tau itu ngeselin dan nyebelin. Wajar.

Tapi sebenernya daripada ngeselin dan nyebelin, gue malah lebih mikir orang - orang itu emang patut dikasihani sih. Dikasihani karena mereka adalah orang - orang yang tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki harga diri, dan tidak akan pernah berhasil. Masa depan mereka telah terlihat dengan jelas. Dan diakui atau tidak diakui, mereka sendiri mengetahui itu.

Logikanya, orang - orang sukses adalah orang - orang yang memiliki kemampuan. Orang - orang yang memiliki kemampuan, tidak akan perlu menggunakan cara yang tidak jantan untuk mendapatkan sesuatu. Dan orang - orang yg memiliki kemampuan, selalu percaya pada kemampuan dan dirinya sendiri, melebihi kepercayaannya terhadap orang lain. Jadi, mereka tidak akan bertanya, sebelum mereka berusaha mencari tahu jawabnya sendiri. Malah kalau perlu, mereka tidak akan bertanya, kecuali kepada expert yang mereka pikir memiliki kemampuan lebih dari diri mereka sendiri. Dan satu yg pasti, pertanyaan mereka bukanlah berupa "apa jawaban akhirnya?", melainkan "bagaimana caranya mencapai jalan akhir?".

Gue yakin, tidak ada usaha yang berjalan hanya dalam semalam. Jauh lebih diperlukan mental - mental baja dalam segala pencaharian itu dibanting dengan hasil yang di dapatkan. Dan apabila mereka melewati semua proses itu, maka apa yang akan mereka dapatkan? Gue jadi teringat ributnya dua adik gue tadi sore.

Adik 1: "Kenapa sih elo pelit banget. Cuma ngasih tau nama website buat download video Ayumi aja ga mau. Gue kan minta yang udah elo cari, bukan yang belom elo cari. Kalo yang belom elo cari tuh, baru deh loe boleh pelit. Ini lo dah tau juga, tinggal kasih tau aja kenapa sih?"
Adik 2: "Gak mau. Gue bukannya ga mau kasih tau, tapi gue ga suka dengan kemalesan elo. Loe tuh tinggal googling aja bisa dapet tau ga? Ini malahan gue udah kasih alamat websitenya dan loe tinggal cari di bagian download. Ibaratnya lo nyari sayur dan gue udah kasih tau supermarketnya, loe tinggal cari sayurnya, tapi loe ngerengek2 di depan gue..mana sayurnya..mana sayurnya..yang mana...? PARAH TAU GA?!"
Adik 1: "Yah kan gue ga tau mana yang bagus, dan itu link nya ada ratusan."
Adik 2: "Loe pikir gue tau?"
Adik 1: "Kan elo udah pernah download."
Adik 2: "Emang gue ingetin? Lagian ya andai gue inget juga, emang waktu gue download, gue tau mana yg bagus? Gue juga nyari satu - satu dan buka satu - satu sampe dapet semuanya. Gue usaha tau!"
Adik 1: "Yah emang napa sih, kan toh intinya loe udah dapet. Apa susahnya sih bagi informasi begitu?"
Adik 2: "Bagi informasinya ga masalah. Dapet enggaknya ga masalah. Gue bisa langsung kasih tau elo alamatnya dan elo bisa dapet semua itu. Atau loe bahkan bisa tanya 10 orang laennya dan loe bakalan langsung dapet alamatnya yg pasti kok. Tapi tau ga apa yg loe ga dapet?"
Adik 1: "Apa?"
Adik 2: "SEMANGAT PANTANG MENYERAH!!"

Dan gue pikir adik 2 gue bener. Yang hebatnya lagi adalah, adik 1 itu adalah adik kedua gue, dan adik 2 adalah adik gue yg paling kecil. See, ternyata umur tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang, apalagi menentukan semangat juangnya untuk berhasil.

Anyway, kita semua mungkin mengerti itu, bahwa dibutuhkan banyak usaha dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan. Bahwa dibutuhkan niat baik dan dasar idealis yang baik untuk menjalankan sebuah usaha yang baik. Tapi ada juga orang - orang itu yg berpikir bahwa keberhasilan adalah hasilnya, dan bahwa jalan apapun bisa digunakan tidak perduli apakah itu legal atau tidak, merugikan orang lain atau tidak, dll.

Meskipun sulit dan mungkin tidak bisa diterima oleh akal sehat gue, tapi gue pikir gimanapun juga gue ga punya hak untuk menentukan apa pendapat dan prinsip orang lain. Gimanapun semua orang memiliki pandangan masing - masing dan memiliki kebebasan untuk menganutnya, Tapi gue juga tau bahwa jelas gue juga punya pilihan dan hak untuk menentukan apa sikap yg gue ambil dalam menghadapi orang - orang seperti itu.

Gue benci jadi orang yg ngedumel di belakang. Karena menurut gue orang2 yg ngedumel di belakang tidak punya kekuatan sama sekali. Jangankan kekuatan untuk melawan, kekuatan untuk mengatakan yg sebenarnya saja dia tidak punya. Di sisi lain gue juga enggak suka orang yg ngedumel di belakang simply karena menurut gue itu munafik.

Jadi biasanya gue lebih memilih sikap untuk berterus terang. Selain gue jadi tidak perlu berbohong, toh tidak ada sesuatu pun yg perlu gue sembunyikan dan dengan bersikap terus terang, gue tidak ikut mendukung terjadinya sesuatu yg tidak gue harapkan.

Gue pribadi penganut open source. Jadi informasi apapun mengenai cara dan proses terutama untuk segi pembelajaran, biasanya gue buka begitu aja. Tapi informasi mengenai siapa, di mana, kapan, dan lainnya yang gue anggap sebagai jawaban akhir, biasanya gue tahan, Ada dua alasan gue menahannya, satu karena menurut gue orang itu memang seharusnya mencarinya sendiri untuk kebaikan dia. Yang kedua lebih karena gue tidak respect kepada si penanya yang menurut gue cuma memanfaatkan pengetahuan gue. Yap, alasan kedua adalah alasan personal.

Tapi ada satu pengecualian, biasanya saat gue tau orang tersebut sudah mencari ke mana - mana dan tidak menemukan, atau gue memang tau orang itu sudah berusaha mencari semaksimal mungkin dan benar - benar niatnya bertanya, gue selalu ngasih tau semuanya, termasuk data2 kunci akhir. Karena menurut gue, orang2 yang bersungguh - sungguh seperti itu memang layak dibantu.

Adalah tidak tabu bagi gue untuk menolak memberitahukan sesuatu dengan cara paling terus terang yang gue punya. Juga tidak tabu bagi gue untuk mengatakan terus terang kepada orangnya bahwa dia tidak punya etika dan hanya mempergunakan gue. Tapi biasanya pada awalnya gue berusaha untuk mengetahui dulu sejauh mana hal itu berguna atau tidak berguna, penting atau tidak penting, dan layak atau tidak layak untuk dibantu, dengan cara penolakan halus. Kecuali memang kondisinya sudah absurd, then a big NO is definitely the answer.

Sebetulnya buat gue pribadi, yg penting bukan soal persahabatannya, bukan soal sincerity nya, bukan soal mandang muka, ego, pride, dan berbagai macam emosi yg tidak penting dan terlebih lagi tidak berguna menurut gue. Yang paling penting buat gue adalah asas guna nya. Apakah itu berguna atau tidak, baik untuk gue maupun untuik orang lain. Buat gue ga penting apakah gue mengenal orang yg bertanya atau enggak, apakah sahabat atau bukan yg meminta informasi, apakah ini dan itu, apa dia lebih berhasil atau tidak, semuanya sama sekali ga penting. Andaikan ada orang tidak dikenal yg ngobrol dan bertanya2 sama gue dan gue lihat itu memang berguna dan layak diberitahu, I will.

Well, meskipun gue belom sepenuhnya bisa mengatur emosi gue, tapi gue semakin sadar bahwa seringkali emosi itu tidak diperlukan. Dan sisanya, seringkali emosi itu justru jadi salah tempat.Mungkin species2 orang yg suka menyalahgunakan kebaikan hati dan mencari keuntungan sendiri dengan menggunakan gue akan selalu ada. Tapi menuruti dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana yg tidak gue kehendaki, adalah sepenuhnya keputusan gue.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
To I.R: Seharusnya saat loe ga suka dan terganggu dengan itu semua, bilang langsung ke orangnya. Ngedumel di belakang adalah tindakan yang tidak akan mengubah apapun. Lebih percuma dari apapun juga. Dan yg pasti, seorang sahabat ga akan merugikan sahabatnya. Di antaranya tidak termasuk orang yg meminta apapun gratis terus, meminta keuntungan terus, dll. Seorang sahabat itu justru orang pertama yg akan mendukung elo and membeli produk elo tanpa perhitungan. Sebagaimana seorang sahabat adalah seseorang yang akan ngebantu elo di dapur dan melayani tamu2 elo saat elo mengadakan pesta. Bukan orang yg dateng belakangan dan pulang duluan. Got it?

14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
littlelf wrote on Dec 26, '06
ic, gw setuju bgt ama pendapat loe!!!
davidmario wrote on Dec 26, '06
pren makan pren, i hate when it's happen. makanya sekarang trust tidak semerta-merta aku berikan ke sembarang teman. bikin sakit hati kalau tahu "dimanfaatin". Bukan salah mbak... yg sudah ngasih kepercayaan, tapi karena "teman" itu yg kemakan sama keserakahan dunia.
eserpe wrote on Dec 26, '06
Hah, pas banget analoginya : sahabat adalah seorang yg akan ngbantu elo di dapur & mlayani tamu-tamu elo (bukan malah minta dilayanin yahhh) saat elo mengadakan pesta. Bukan orang yg dateng belakangan dan pulang duluan (apalagi kalo di blakang jg ngomentarin :pestanya kurang asyik yaaaa)...
claps claps claps buat contohnya djeng...
viliaciputra wrote on Dec 27, '06
ic, gw setuju bgt ama pendapat loe!!!
Thnak you.
viliaciputra wrote on Dec 27, '06
pren makan pren, i hate when it's happen. makanya sekarang trust tidak semerta-merta aku berikan ke sembarang teman. bikin sakit hati kalau tahu "dimanfaatin". Bukan salah mbak... yg sudah ngasih kepercayaan, tapi karena "teman" itu yg kemakan sama keserakahan dunia.
Yah begitulah. Intinya sih pastikan segalanya benar saat memutuskan sesuatu, dan setelah diputuskan, lupakan saja semuanya. Ibaratnya saat meminjamkan sesuatu, anggaplah sesuatu itu sudah diberikan ke orangnya. Apakah dikembalikan atau tidak, sudah tidak penting lagi. Sahabat yg benar pasti mengembalikan secepatnya, dan orang yg mepergunakan pasti akan meminjam lagi. Simple tapi ampuh. Tidak perlu lelah emosi, bisa jelas terlihat apakah itu sahabat atau bukan. Hehehe...
viliaciputra wrote on Dec 27, '06
eserpe said
Hah, pas banget analoginya : sahabat adalah seorang yg akan ngbantu elo di dapur & mlayani tamu-tamu elo (bukan malah minta dilayanin yahhh) saat elo mengadakan pesta. Bukan orang yg dateng belakangan dan pulang duluan (apalagi kalo di blakang jg ngomentarin :pestanya kurang asyik yaaaa)...
claps claps claps buat contohnya djeng...
Ya ya benar. Ga penting banget komentar2 tak berguna saat dirinya sendiri tak membantu.
Istilahnya, if you think you are so great, why don't u make ur own? :P
Anw, thx ya.
vindriani wrote on Dec 27, '06
pas banget buat aku bacaan ini, krn seringkali susah menolak memberi informasi sama org2 yang suka nyari untung doang tanpa mau usaha sendiri. Aku perlu belajar bersikap tegas. Thx ya Vil... Happr New year :)
jenniesbev wrote on Dec 27, '06
Vilia, aku sudah bosan sama yang kayak gini2 lho. Dari yang "halus" sampai yang down right nasty hampir tiap hari aku alami, Vil. Dari hati gua sedih sampai gua marah sampai gua rage, sudah pernah gua alami. I have a good heart, paling nggak tega kalau orang nanya2 something dan pasti gua jawab. Sampe hari ini gua masih begitu. Perhaps I need to learn how to say NO early from the beginning. Berteman pun semakin dekat, ada yang semakin "banyak mintanya." Dari minta dianter2in ke mana2 (di AS kan kita nggak punya sopir, jadi motong waktu kerja) sampai minta nitip anak selama dia ke kantor (lho kan ada day care? Emangnya dia kerja, gua nggak kerja juga?). Sampai ada yang ngancem ini itu karena dia sudah kirim dia punya draft, padahal kita nggak open submission call apapun karena semua buku ditulis in-house sendiri. Capek hati emang, Vil. That's the reality of life.

But one lesson I learned: The more people ask from you, it means you are much better than them. Take it as a compliment, say no to them and move on. That's one lesson I learned the hard way....

Much love,

Jennie
viliaciputra wrote on Dec 28, '06
pas banget buat aku bacaan ini, krn seringkali susah menolak memberi informasi sama org2 yang suka nyari untung doang tanpa mau usaha sendiri. Aku perlu belajar bersikap tegas. Thx ya Vil... Happr New year :)
:) Sama - sama Vin. Memang bersikap tegas itu penting. Moga2 berguna ya.
viliaciputra wrote on Dec 28, '06
Berteman pun semakin dekat, ada yang semakin "banyak mintanya." Dari minta dianter2in ke mana2 (di AS kan kita nggak punya sopir, jadi motong waktu kerja) sampai minta nitip anak selama dia ke kantor (lho kan ada day care? Emangnya dia kerja, gua nggak kerja juga?). Sampai ada yang ngancem ini itu karena dia sudah kirim dia punya draft, padahal kita nggak open submission call apapun karena semua buku ditulis in-house sendiri.
Wah parah juga ya Jen. Sekali dua kali kalau teman minta tolong sih gue ngerti lah. Mungkin mereka memang urgent dan tidak bisa minta bantuan kepada yg lain. Tapi kalau berkali - kali dan makin ngelunjak, rasanya emang perlu di analisa ulang ya, itu pertemanan atau bukan. Karena gue yakin, teman yg baik justru akan berusaha semampunya untuk enggak ngerepotin kita kan? Coz I feel that way towards my best friends.

Gue pikir, niat kita baik untuk menolong orang, tapi kalau kita jadi dipergunakan untuk itu, yah jadi salah. Sama aja seperti kita ngeliat orang di pinggir jalan mau numpang mobil. Niatnya baik memberikan tumpangan, tapi kalau lantas jadi dirampok ya kan konyol juga.

Selain itu rasanya bukan cara yg benar juga untuk menolong orang dengan cara mempermudah jalan yg mereka lalui. Sama seperti monyet yang berpikir ingin menyelamatkan ikan dengan cara mengangkatnya ke darat saat banjir. Niatnya baik, tapi jadi salah juga. Konyol kan?

Yeap gue setuju dengan loe Jen. That's life and memang dilema, tapi apapun yg terjadi memang harus bersikap tegas and just move on. Say what you mean, and mean what you said.

Love n Big hugs to u. :)
bernard73 wrote on May 16
1. Setuju sama uraian ada beberapa orang yang suka mengambil untung sepihak.
2. Gak setuju sama "Seorang sahabat itu justru orang pertama yg akan mendukung elo and membeli produk elo tanpa perhitungan." Beli gitu lho... tetap aja berlaku, filosopy marketing ketika kita akan beli sesuatu, manfaat apa yang kita bisa dapatkan. Buat gw materi not include dalam persahabatan, persahabatan is morality, rasa bukan materi.
3. 50 % paragraph terakhir isinya bukan narsis ya ? ;)) karena perasaan2 sifatnya selalu subjectif.
viliaciputra wrote on May 17
1. Setuju sama uraian ada beberapa orang yang suka mengambil untung sepihak.
2. Gak setuju sama "Seorang sahabat itu justru orang pertama yg akan mendukung elo and membeli produk elo tanpa perhitungan." Beli gitu lho... tetap aja berlaku, filosopy marketing ketika kita akan beli sesuatu, manfaat apa yang kita bisa dapatkan. Buat gw materi not include dalam persahabatan, persahabatan is morality, rasa bukan materi.
3. 50 % paragraph terakhir isinya bukan narsis ya ? ;)) karena perasaan2 sifatnya selalu subjectif.
1. :)
2. No problem. Wajar kalau pendapat loe dan pendapat gue berbeda :). Yang gue maksud dengan membeli produk si sahabat tanpa perhitungan adalah tanpa perlu tawar - menawar. Saat si sahabat menjual sesuatu dan sudah memberikan harganya, maka biasanya gue tidak akan melakukan tawar - menawar lagi. Itu salah satu bentuk kepercayaan gue terhadap sahabat tadi bahwa dia memberikan harga terbaik untuk gue, sekaligus tanda penghargaan dan dukungan gue atas usaha yang dia lakukan. But again, itu pendapat gue. Apapun pendapat terbaik elo, silahkan ikuti kata hati loe. :)
3. :) Blog ini memang personal blog gue, bahkan di halaman depan di bagian comment sudah gue nyatakan dengan jelas kalau ini mp pribadi. Maka wajar kan kalau semua isinya adalah pikiran, pendapat, perasaan, dan tentang kehidupan gue? :) Memangnya apa yg elo harapkan dari blog pribadi seseorang? Hehehe...
bernard73 wrote on May 17
Thanks for respon,.. ya betul.. itu hak anda 100 % dalam menuliskan apa pun yang anda fikir benar, dalam blog pribadi anda yang anda publikasikan. Sorry saya yang salah karena mencoba melihat pendapat anda dalam sudut pandang yang lain yang menurut saya akan lebih tinggi nilai nya ketika seseorang intelektual menguraikan sesuatu dengan cara yang lebih objectif, mempertimbangkan pendapatnya dalam suatu kerangka fikiran dan teori yang pernah dia pelajari dan dia ketahui.

Salam.
viliaciputra wrote on May 18, edited on May 18
:) Bernard, objektif atau subjektif menurut saya akan kembali lagi pada kepentingan orang yang menilainya.

Sebagaimana saya katakan di awal, ini adalah blog pribadi saya, yang berarti seringkali saya menulis hanya memikirkan dari segi kepentingan saya sendiri dan bukan orang lain. Berbeda dengan artikel yang dipertimbangkan untuk orang banyak dan dipublikasikan demi tujuan tertentu, saya yakin di kebanyakan blog pribadi, yg akan anda temukan adalah tulisan - tulisan yang memang hanya ditujukan bagi si pemilik blog tersebut.

Bagi saya yang menulis, apa yg saya tuliskan adalah hanya sebuah kejujuran diri, terlepas dari subjektif ataupun objektifnya bagi si pembaca. Saya bahkan tidak terlalu memikirkan apakah itu akan dilihat tinggi atau rendah bagi orang lain. :) Jadi, maafkan kalau saya tidak memenuhi harapan ataupun kriteria anda akan seorang intelektual. :)

Saya memang masih akan dan masih harus banyak belajar. Mungkin anda bisa membantu saya dengan tulisan2 anda juga? :)

Have a nice day.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help