Beberapa tahun yang lalu, sewaktu aku masih kuliah, ada seorang lecturer dari UK yang mengajar mata kuliah International Business. Hal pertama yang dilakukan begitu masuk ke kelas adalah membagikan kertas folio, dan berkata, “We will have an exam now.”
Another weird lecturer. Begitu pikir semua anak – anak. Maklum, kita semua sudah begitu terbiasa dengan kelakuan para lecturer di sana. Dan ternyata ujian yang dimaksud berisi pertanyaan – pertanyaan tentang motivasi dan cita – cita. Beberapa yg umum seperti, “bagaimana kamu memandang dirimu 10 tahun lagi?” atau “Apa pekerjaan impianmu?”. Hal – hal seperti itu lah kira – kira.
Waktu kelas kedua tiba waktunya, hasil ujian dibagikan. Dan lucunya, semua orang mendapat nilai merah. Banyak sekali tinta merah di sana sini. Sebetulnya semua orang dapat nilai merah, bukanlah hal yg aneh. Tapi masalahnya pertanyaan – pertanyaan yang diberikan adalah tentang impian dan motivasi. Bagaimana caranya dia bisa menilai impian dan motivasi seseorang, kemudian menyalahkannya dan memberikan nilai buruk pada semua impian dan motivasi itu?
Begitu kertas selesai dibagikan, dia langsung menepuk kedua tangannya meminta perhatian, untuk kemudian berkata, “Guys, dream doesn't exist in the real world.” Ho ho ho... extreme way to show her opinion. Jelas kita semua siap berdebat. Tapi dia langsung memotong dan mengatakan, “Keep all the rubbish for yourself, and never talk about dream to me. Not even a single word. We are here to talk about reality.”Cara mengajar yg menyebalkan. Lecture yang diktator, dan jelas kelas yang paling menyebalkan.
Sebelum ada lecturer kelas International Business itu, kelas Inggris paling populer sebagai kelas killer, bukan hanya karena lecturer nya sangat – sangat disiplin (setiap minggu kita harus menyerahkan makalah essay research sejenis skripsi plus mempresentasikannya) tapi juga karena pelit nilai (Orang Amerika asli pun dapat D di kelas dia. Bayangkan!). Lecturer di kelas Inggris itu maksimal hanya mengajar selama 45 menit dari 2 jam yang dimilikinya, karena menurutnya otak manusia hanya bisa fokus pada 45 menit pertama, dan sisanya akan kehilangan fokusnya sehingga tidak berguna untuk dipaksakan untuk dimasukkan informasi. Dan meskipun hanya 45 menit, rasanya seperti 2 jam full, karena tidak ada seorangpun yang bisa lengah sedikitpun. Di kelas Inggris yang diajar lecturer tersebut, muridnya tidak pernah lebih dari 20 orang. Hampir kebanyakan yang terlanjur masuk, memilih skip.
Namun sejak ada kelas International Business dengan lecturer dari UK tersebut, maka kelas killer no 1 berpindah posisi. Murid yang masuk, tidak pernah lebih dari 15 orang. Untuk setiap project yang akan kita presentasikan, bersiap – siaplah untuk dicecar dengan pertanyaan langsung darinya. Dan jangan pernah berpikir untuk bisa memberikan jawaban berdasarkan pemikiran dan pemahaman kita sendiri, karena dia akan selalu bertanya, “Where did you get that?” atau “How can you know about that?” atau “Do you have any official public statistic and research about that?”
Begitu dia mendapati bahwa tidak ada back up facts apapun dari lembaga yang kredibilitasnya bisa dipercaya, dia akan langsung menatap ke matamu dan berkata, “Who do you think you are talking to? You think I'm gonna believe any opinion from you,...well...a university student?” dengan nada yang jelas tidak terdengar menyenangkan sama sekali.
Sampai project terakhir, project terbesar yang menentukan keputusan nilai GPA, sikapnya tidak pernah berubah, malah semakin menjadi - jadi. Kalimatnya yang selalu terdengar adalah, “I am here not to buy any dream from any dreamer. Show me what I am going to get from you, or else you'll get nothing.” Seperti yang dikira, tidak ada satupun yang mendapat A atau B+ dari kelasnya. Sedikit yang mendapatkan B, dan berlimpah yang mendapat D disertai dengan kutipan “A dreamer is just a step away from a looser.” Kelas yang benar – benar menyebalkan, meskipun aku termasuk yang beruntung mendapatkan B.
Tapi percaya atau tidak, kelas itu yang paling banyak mengajarkanku tentang mimpi. She was right. A dreamer is just a step away from a looser. Unless, you know how to make it more than just a dream. Dan dalam dunia nyata, terutama dunia business, memang yg terpenting adalah bagaimana kita bisa menunjukkan apa yang akan orang lain dapatkan dari kita. Bukan apa yang kita harapkan dari orang lain tersebut. Semua orang menginginkan keuntungan dari segala hal yang dilakukan, ditanamkan, dan lainnya. Semua orang mengharapkan hasil. Dan kalau boleh dikatakan dengan jujur, hanya sedikit yg perduli dengan bagaimana caranya.
Seorang yang paling dermawan, pengertian, dan bodoh sekalipun tentunya akan menjadi sangat idiot apabila membiarkan usaha atau apapun yang dilakukannya terus merugi. Tidak ada usaha amal, meskipun hasilnya ditujukan untuk beramal. Dan sekali lagi dosen itu benar. Show them what they'll get from you or you'll get nothing. Rules itu berlaku bukan hanya pada investor, tapi juga partner, customer, supplier, dan lainnya. Berlaku dalam semua jenis hubungan bahkan dalam hubungan pribadi.
Dan lagi – lagi dia benar, semua orang punya ide besar, kalau tidak boleh disebut semua orang berlimpah ide. Semua orang punya harapan dan impian. Tapi hanya sedikit yang membuatnya menjadi nyata. Dan hanya segelintir lagi yang benar – benar tahu bagaimana cara mewujudkannya dengan benar, bukan bergantung dari kebetulan, kenalan, atau limpahan. Dan di dalam dunia nyata, tidak ada yang perlu diperbincangkan tentang impian – impian tersebut. Yang penting dibicarakan adalah bagaimana kita akan mencapainya satu persatu.
Masalahnya adalah, tidak akan ada yang percaya pada kemampuan dan pemikiran seseorang yang belum membuktikan kecakapannya. Dan pembuktian itu memerlukan waktu. Sedangkan ide – ide besar, berpacu dengan waktu. Berpacu dengan originalitas. Maka cara yang paling benar adalah seperti yang dikatakan lecturer tersebut. Research. Dan yang pasti, berikan mereka fakta.
Dengan kita bisa memberikan fakta – fakta yang jelas dari lembaga yang terpercaya pada bidangnya, maka kita menunjukkan bahwa kita juga memiliki sistem yang jelas. Dalam proses pencarian fakta – fakta tersebut, kita pasti telah melalui banyak fakta – fakta lainnya yang harus kita mengerti, sehingga tanpa sadar, kita sudah mengetahui begitu banyak hal tentang project atau ide tersebut, tentang sistem menjalankannya, dan tanpa kita sadari pengetahuan kita telah bertambah sangat banyak sehingga kita jadi mampu mempertimbangkan banyak hal sebelum menentukan langkah demi langkahnya. Itu tentunya akan memberi banyak kelebihan dalam masalah keakurasian data dan sistem yang akan dijalankan, dan memberikan gambaran jelas tentang seberapa matangnya ide dan rencana yang ditawarkan.
Setelah dipikir – pikir, kelas itu tidak akan menjadi lebih baik daripada yang telah dijalankan sebagaimana adanya. Dengan cara mengajarnya yang diktator, aku dipaksa untuk mendengarkan dan bukan berbicara. Aku dipaksa fokus dan mau tak mau terpaksa berusaha memahami. (Well, apalagi yg bisa dilakukan sewaktu mendengarkan sambil diperhatikan dan dipertanyakan, selain benar – benar mendengarkan?) Aku juga dipaksa untuk berbicara dengan bahasa fakta, dipaksa untuk mempertanggungjawabkan semua pendapat dan pemikiranku. Dibentuk untuk dapat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan memberikan respons pada segala sesuatu yang mendadak atau tidak terencana, bahkan sejak awal kelas dimulai.
Aku juga disiapkan untuk menghadapi dan mampu menangani situasi saat dipermalukan atau dibodohi di depan orang banyak, misalnya saat presentasi gagal. Yang pasti, aku dipaksa untuk berpacu dengan diri sendiri, memberikan semua usaha terbaik yang aku mampu, semua detail yang mampu kuingat, dan memberikan 200% kemampuanku untuk melampaui setiap hambatan yang ada. Dan yang tidak ketinggalan, tentunya juga pelajaran tentang bahwa segala hal yang aku lakukan, usahakan, dan harapkan dengan sungguh – sungguh, belum tentu terwujud dan terlaksana sesuai dengan harapanku, yaitu dengan nilai B setelah kerja keras yang aku yakini apabila kulakukan di kelas lain, maka nilai A+ sudah di tanganku.
Satu kelas yang seperti neraka. Tapi setelah selesai satu semester dengan kelas itu, semester – semester selanjutnya terasa begitu mudah. Sementara yang lain masih bingung bagaimana untuk membuat essay dan research, aku telah dengan lancar mendapatkan apa yang kuinginkan. Apa yang kudapatkan, jauh melampaui huruf B yang terpampang di lembaran kertas itu. Dan sebaliknya, huruf B itu justru menguatkan keyakinanku akan diriku dan kemampuanku sendiri, jauh melebihi huruf A dan A+ yang berderet di atas dan bawahnya. Dan saat aku melihat CGPA ku 3.85 di semester itu, untuk pertama kalinya aku merasa amat sangat puas dengan satu – satunya nilai B yang kudapatkan di semester itu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku sedang mengecek inboxku dan menghapus e-mail – email yang tidak berguna. Kemudian menemukan beberapa e-mail balasan dari lecturerku itu. Balasan pertama yang kudapatkan dari email pertamaku yang kukirimkan beberapa tahun setelah kelasnya adalah, “Have your dreams come true?”
“Some of them have, and the others are on their way. I owe you one.” balasku.
Selalu ada pilihan untuk belajar dan mengerti, untuk kemudian percaya dan wujudkan.