Sewaktu menonton E! tadi, ada sebuah kalimat yang membuat gue tertawa. Sewaktu membicarakan tentang tokoh populer dan lainnya, disebutkan : “Paris Hilton, famous of.....being famous.” Hehehehe.....
Menurut gue bukan salah Paris menjadi terkenal karena terkenal. Minimal, dia terkenal karena memang orang banyak mengenalnya dan orang banyak yang mengakui dan membuatnya menjadi terkenal.
Daripada yg terjadi belakangan ini, di mana ada banyak orang - orang yang narsis dan mempromosikan dirinya ke mana – mana, kemudian bersikap seolah dirinya terkenal, padahal kenyataan sesungguhnya adalah sebaliknya. Ada perbedaan yang besar antara terkenal dengan dikenal. Sebagaimana ada perbedaan sikap yang besar pada mereka yang terkenal atau merasa terkenal. Hehehe...
Kalau diperhatikan dengan seksama, orang yang terkenal (benar – benar terkenal maksudnya), akan bersikap alami terhadap keterkenalannya. Simply karena mereka merasa mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka pantas untuk terkenal. Mereka memang ingin terkenal dan sudah terkenal. Yah contohnya Paris Hilton sajalah. Terpisah dari negatif atau positif, dia memang terkenal. Dan dia memang bersikap selayaknya orang terkenal. Atau ambil contoh Trump deh. Atau Krisdayanti. Atau siapapun deh sebut yang memang benar – benar terkenal. Gue yakin mereka semua menikmati keterkenalannya, menerima dan memperlakukan keterkenalan tersebut dengan natural. Tidak ada sikap setengah – setengah ataupun malu – malu tapi mau. Meskipun kadang ada tabiat dan sikap mereka yang..well..out of mind.
Kebalikannya, orang yang merasa dirinya terkenal, justru memperkenalkan dirinya ke mana – mana, mendeskripsikan, mempromosikan, dan mengklasifikasikan dirinya ke sana sini, hanya untuk bersikap setengah – setengah dan mengakhirinya dengan sikap semi humble like “I'm not a star at all”. Oh c'mon? Kalau memang bukan bintang dan bukan orang terkenal, untuk apa menyebar luaskan , mempromosikan, memperkenalkan, atau apapun namanya lah. Kalau memang tidak berniat untuk terkenal, untuk apa namanya terpampang di semua hal yang dilakukannya?
Saat gue menulis Vilia Ciputra di bawah artikel yang gue buat, saat itu gue memang ingin orang – orang mengenal gue, mengetahui bahwa itu adalah property gue, hasil kerja gue, dan mereka perlu ijin gue untuk semua property tersebut. Dan saat gue ga butuh itu semua, gue cukup menaruh nama instansi yang terkait di bawahnya misalnya seperti Simplight.NET atau Jeirbyu.Inc, dan lainnya yang memang akan menggunakan hasil kerja gue. Itupun karena gue mau orang mengenal perusahaan – perusahaan itu dan membuatnya jadi terkenal.
Saat produk – produk dan hasil kerja gue dipampang di media dan lainnya, tentu saja akan gue tampilkan dengan bangga. And I'm not going to act like I don't deserve it. Karena itu sama saja dengan mengecilkan semua keringat dan jerih payah yang sudah gue lakukan selama ini. Atau sama aja berarti gue tidak percaya dengan kemampuan diri gue sendiri dan tidak percaya dengan kualitas apa yang gue kerjakan itu. Dan a BIG NO NO buat gue untuk memberikan sebuah hasil yang bukan 200% dari usaha gue.
Jadi memang jelas tujuannya, dan memang jelas niatnya. Dan saat suatu saat mungkin itu semua menjadi terkenal, gue akan menerimanya dengan mantap. Simply coz I know, I deserve that. Bukan berarti gue jadi mendukung sikap sombong, karena sombong juga bukan sikap yg baik dan tepat untuk menyikapi sebuah fame, tapi simply gue benci sikap munafik ataupun setengah - setengah. Intinya hanya say what you mean and mean what you said, if you are for real, of course.
Saat kita memang butuh untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan, menurut gue adalah alamiah apabila kita mempromosikan dan mengusahakan keterkenalan itu sendiri untuk apapun itu, baik untuk perusahaan, brand, produk, ataupun nama diri sendiri. Dan saat semua itu memang sudah dikenal, terima dengan baik dan buatlah tetap menjadi dikenal dan lebih terkenal. Dan saat sudah terkenal, well bolehlah dikurangi strategi marketingnya, tapi coba cari cara yang lain selain being semi humble. Apalagi yang bersikap semi humble untuk lebih dipuji lagi, please deh. Believe me, once we act like we don't deserve it, we really don't deserve it. Anyway, ada banyak cara lainnya kok untuk menyikapi fame, gracefully.
Contoh Trump, Nicole Kiddman, Jennifer Anniston, Bono U2, and Angelina Jolie (terpisah dari kisah romantismenya dgn Pitt). Mereka terkenal, nyaman dengan keterkenalannya, bisa berbuat banyak dengan keterkenalannya, dan bahkan saat disakiti, dipermalukan, dan di sorot habis – habisan, mereka tetap menyikapinya dengan penuh keanggunan dan harga diri.
Kalau artis Indo, gue belum menemukan contohnya ya, soalnya mereka cenderung cari aman dengan menghindari kontroversi sih. Paling2 Inul doank yang berani maju, itupun masih salah caranya and not defined as gracefully. Andaikan harus memilih celeb Indo, gue mungkin malah lebih salut sama Agung yang jelas2 mempublished semua iklan yg udah dia ikuti, dan mengirimkan sms promosi setiap ada film atau iklan yg dia bintangi. (Yeap Gung, loe dah masuk kategori celeb Indo lho skrg ;) Hehehehe keep the good job!) atau Tiara Lestari yang jelas – jelas berbicara tentang fakta karir dan hidupnya secara terbuka. Yes they are promoting themselves and they deserve what they have now.
Setelah melihat semua itu, wajar buat gue kalo Nicole Ritchie ga lepas – lepas dari bayangan Paris Hilton. Atau Hillary Duff kalah famous dibanding Lindsay Lohan. Atau Britney kalah pamor dengan Christina Aquilera. Bukan karena yg negatif lebih laku dijual (kalau semua itu dianggap negatif), tapi karena they believe in themselves, they believe in what they do, and they accept the fame simply coz they know they deserve that. They have an attitude. That's all.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bad is bad. Good is good.
There are no such thing as “good is being good or trying to be good”.